Rabu, 14 Januari 2009

Penggalang? Siap!


Awal masuk Pramuka..

Semangat, saking semangatnya, akulah yang paling awal datang dan bertengger manis di tangga menunggu teman-teman. Semangat, saking semangat, akulah yang masuk kategori pramuka berbaju putih, karena belum seragam saat masuk pramuka.


Ikut Pelantikan Penggalang Ramu

Jadi Pimpinan regu, namanya regu empat. Regu ini cuma sementara. Belajar PBB (peraturan Bari Berbaris). Mengikuti semua syarat buka SKU (Syarat Kecakapan Umum). Hafal dasadarma dan trisatya pramuka.

Setelah memenuhi beberapa persen SKU. Akhirnya dilantik. Cihaaa….

Bengkok satu (tanda kecakapan umum) di lengan kiri!! kacupun terpasang di leher terikat dengan cicin berwarna merah berlogo tunas kelapa dikelilingi lingkaran, lambang kecakapan berhias-hias (banyak pangkat di lengan kiri), baret dihiasi lencana, sumpritan bergelantungan di bahu kanan, kaus hitam dan kaus kaki hitam.


Jadi penggalang Ramu

Resmilah aku jadi penggalang. Ketika seleksi kelas dua dan satu yang dapat kesempatan mengikuti perkemahan di Desa Bora untuk berlomba dengan MTs lainnya, aku masuk dalam sepuluh besar. Hebaaat!!!


Berkemah di Bora

Untuk pertama kalinya aku mengikuti perkememahan, sungguh indah dan terkenang sepanjang masa. Rasanya jatuh cinta kedua kalinya dengan Pramuka. Kami berkemah di hamparan sawah yang luas. Di Timur dan Selatan adalah gunung dan perumahan, di Utara dan Barat adalah sawah…sungguh luar biasa..

Jika malam tiba, suara gendang bertalu-talu, hilir mudik pengunjung dan anak-anak penggalang berkeliaran, nyanyian khas dari masing-masing daerah seakan berkompotisi, suara muratil dan muratilah melengking saling menusuk bersaing.

Siangnya, kamipun MTs Alkhairaat Kalukubula dan MTs lainnya harus bersaing lagi, menguji kecakapan tentang Morse, Semafore, PBB, Pionering dasar, jelajah. Perlombaan olahraga juga ada, lari kelereng, lari sprin, lari sambung dan tarik tambang.

Hal yang paling kami benci adalah upacara bendera di tengah terik panas matahari. Pingsan, pingsan, dan pingsan adalah panorama biasa.. entah sudah bohong atau serius yang penting kami tidak tahan panas..karena Bora memang panas.

Tibalah pengumuman… ketika Pembina mengumumkan salah satu lomba; “Juara satu MTs Kalukubula!” kemudian satu lomba lagi…juara satu MTs Alkhairaat Kalukubula, dan akhirnya setiap lomba hampir dilahap habis. Saat pembina mengumumkan "Juara UMUM Mts Alkhairaat Kalukubula." Aku yang hanya bisa menikmati hasil dari perjuangan dari kakak kelasku pun turut berteriak bersama teman-temanku. Kami bersorak sorai masuk ke tengah lapangan…menari, berjoget, memukul belanga sampai penyok, dos-dos berterbangan dilempar oleh rasa girang tadi.

Pulangnya, kami pun bangga, meraih juara umum. Meski disiram sepanjang jalan dengan air comberan.. biarkan kami basah kuyup oleh air-air bora. Mungkin itulah kenangan terindah. Dan kotoran itu menjadi noda sejarah. Tidak sia-sia tangan kakak-kakak kelasku melepuh karena menarik tambang. Tidak sia-sia pula aku menjadi petugas stoker dan piket malam, toh itu untuk mendukung kakak-kakakku. Sebenarnya banyak kisah lucu, seru dan haru…tapi itu saja dulu…


Jadi petugas penjaga jalan

Aku bangga, bisa pula terpilih menjadi penjaga jalan raya saat upacara hari Senin. Apalagi mengenang kakak Faisal yang pernah tegas menghadapi pengendara yang bandel, sehingga dua hulubalangnya memukul mundur motor si bandel itu.

Ya, menjaga jalan saat upacara..

Kesan pertama, ketika aba-aba sumpritan,”Trrrrruuuuuiiiiiiiiiiitttt,” maka jalan segera di tutup. Tak ada yang berani melanggar. Sebab jika melanggar itu artinya menghianati merah putih. Itulah tugasku menjaga jalan saat upacara. Tugas Negara yang dijalankan oleh seragam coklat.

Posisi badanku tegap, kaki kangkang 30 derajat tanganku terkepal di belakang pinggang tepat di atas ban pinggang, jika aku di sebalah timur maka tangan kiriku yang memegang tongkat penghadang..jika aku di sebalah barat maka tangan kananku yang memegang tongkat tersebut. Kadang ada yang merayu..mengatakan “Begitu dong jadi pramuka! Harus tegap. Salam pramuka,”..Akupun tersenyum bangga.

Saat pemimpin penjaga jalan meniupkan sumprit ,”truit…truit. Truit truit,” jalan pun dibuka..frumm…frumm…..motor pelan dan ngebut..ya begitulah..


Berlomba di Selektif, Polsek Palu Selatan

Yaaa...memuasakan MTs Alkhiaraat mengalahkan SMP 1 dan SMP 9

Saat kelas dua pun begitu, kami juara umum lagi, mengalahkan SMP 2 dan SMP 6


Kelas Dua, Pelantikan Penggalang Rakit

Kemah di desa sendiri

Kemah di desa sendiri, apa enaknya. Jaraknya pun tak jauh dari rumahku…naik sepeda pun tak perlu.. Tapi yang paling asyik adalah saat mempersiapkan semua perlengkapan perkemahan. Atau juga mempersiapkan perangkat lunak, yaitu berlatih untuk meraih juara umum regu. Aku masuk pada regu elang.. Dari dulu aku selalu di regu ini, saat dengan kak faisal aku regu elang, saat dengan kak Affan aku pun regu elang..mungkin sudah jodoh dengan elang.

Walau tak begitu berkesan tapi, sungguh luar biasa. Walau di daerah sendiri serasa di daerah orang lain. Karena kami tak bisa berkeliaran kecuali di area perkemahan. Mandinya pun di sungai. Bukan di rumahku yang sangat dekat itu.

Semua regu kami taklukkan..regu kami jadi juara umum. Memang hebat regu elang ini.

Sementara kelas satu harus memenuhi kecakapan umum.


Selanjutnya Berkemah di Pakuli..

Aku sudah masuk dalam kelompok pejuangnya. Sama halnya dengan di Bora, MTs Kalukubula juga juara umum. Saat pengumuman, kami tetap menari dan berlari, dengan sorak sorai den tengah lapangan. Tapi di Pakuli beberapa lomba telah didelete, seperti Tarik tambang dan lari. Katanya menyiksa penggalang. Namun ada lomba alternative, yaitu sepak bola dangdut…duutt..duttt..tumpak dung dung..golll!!

Pulangnya..kami dihujani oleh air comberan lagi. Dan kali ini lebih sadis, karena bauhnya minta ampun. Pada kondisi ini, kami tidak tinggal diam, harus dibalas!! Kak Saiful dan Azwar siapkan amunusi. Sisa cabai yang tidak terpakai ditumbuk halus, dicampur dengan sisa kuah mie instant, dicampur lagi air comberan…himm rasain kamu anak-anak obat (Pakuli).

Kami sudah siap berperang dengan mereka. Startegi awal, yaitu sembunyikan air kuah mie di atas mobil truck pengangkut pasir, yang tinggi cupnya hanya 60 CM. Nanti jika tiba saatnya, kami siap melontarkan amunisi kami ke anak obat ini.

Mulailah mobil kami jalan..brumm…anak-anak obat sudah ancang, baskom dan plastic berejejer di jalan khusus untuk kami yang dibenci, karena telah mendapatkan juara satu atau umum. Tapi paling tidak satu balasan kami cukup menarik, mie instant cap huah huah huuuhh…. Azwar ambil stand, sesegera pengawalnya memberikan belanga berisi kuah mie cap…., Kami koor teriak, "siram saja!!!". Tangan azwar langsung melayang, mengayun namun cukup bodoh gerakkannya..ayunan tangannya berputar 180 derajat, akhirnya siraman mie instant mengenai sasaran yang tidak tepat..kami.


Itu saja dulu, sebab kelas tiga penggalang terap itu khusus. Karena di situ Aku sudah menjadi actor utama. Bukan lagi pengikut setia. Nanti saja kubicarakan..

Tidak ada komentar: