"Asslmkm. Afwan akh saya tdk bisa jadi koordinatr. Cz saya mungkin tidak lama lg keluar kota," kata seorang Jundiyah kepadaku, akhir-akhir ini.
"Assalmkm, yang jadi koordnatr adalah si Akh...," kata seorang jundiyah lain kepada ana tanpa proses syura dengan Qiyadah (ana)
"Asslmkm, Afwan akh kayakx ana ga bisa trll aktif di KAMMI. Cz ana srng konflik dgn ortu gr2 trelalu berorganisasi. Tp ana akan bnt-bnt KAMMI," kata seorang jundiyah lainnya. Hal ini ana maklumi karena kondisinya terlalu rumit.
"Katanya si Fulan sebenarnya tidak mau aktif di KAMMI. Kalau bukan karena si Anu yang bujuk dia, dia pasti tidak mau. Dia bilang: kalau cuma kamu yang minta untuk dia aktif di KAMMI, pasti dia tidak mau," kata seorang teman kepadaku sambil meniru perkataan si anu Fulan. Si Anu Fulan sebenarnya tidak ikhlas kalau saja yang mengajak itu ana.
"Afwan akh saya ada urusan keluarga jadi saya tidak bisa datng rpt," kata seorang jundiyah yang satu lagi. Alasan itu sudah lumrah dengan anak yang satu ini.
Starting yang mengejek. Starting yang menodongku dengan senjata bermerk "Payah" berpeluru "gagal". Starting yang memberi ana bogem mentah, sampai ana benjol-benjol kiri kanan. Baru saja memulai perjalanan KAMMI, alasan dan kabar buruk tidak mengenakkan datang silih berganti, menonjokku babak belur. Ahh payah ana ini, jadi pemimpin kok mengundang kemalasan dan penolakkan. Padahal mereka yang memilih adalah mereka yang sudah bersiasat memojokkanku dalam posisi terjal itu.
Kalau mengingat buku laskar pelangi, ana ini diibaratkan si Kucai, si Lomot, yang bersusah payah menghindar jadi pemimpin matia-matian. Namun karena semuanya memojokkannya dengan satu kata yang sama "Kucai jadi pemimpin". Akhirnya, amanah itu datang membebani, berat-berat sekali dirasakan si Kucai. Begitulah ana, persis kucai. Dijadikan pemimpin hanya karena menghindar dari kepemimpinan. Setelah itu menjadikan ia tetap si Kucai, yang lomot. Ya..tidak dianggap Qiyadah..hmmm...
Tapi bukan berarti ana kecewa dengan mereka ini. Wajarlah. Mungkin kalau saja posisi ketua bukanlah ana, barangkali sikap yang sama ana juga akan lakukan. Karena demikian sulit membangun kembali semangat itu. Sulit pula menyusun pemikiran mereka yang dulu sangat konstruktif bagi KAMMI, sebab Kebencian dan kekecewaan sudah menggunung dan membatu. Rumit untuk mecahkan kebencian dan kekecewaan itu. Ana faham itu Akhi ukti...
Ana juga tidak ingin memaksa akhi ukhti untuk hadir kembali di KAMMI ini. Sebab ana juga tidak mau KAMMI masih dibangun dengan sikap kekecewaan dan kebencian. Sikap itu sama sekali tak akan mampu menyusun kembali KAMMI yang dulu. Malah meruntuhkannya kembali sebab emosi yang tak terbendung bisa jadi membuncah saat-saat kita sedang berjamaah, maka saat itulah berpengaruh besar bagi psikologi sebagian kader.
Ketika memimpin nanti ana akan tahu posisi ana. Pasti akan menjadi pihak yang tersalah sepanjang ada kendala atau persolaan individu antar kader. Misalnya, ketika syura, kelompok argumen A dan kelompok argumen B berdebat soal metode yang baik dalam salah satu kerja. Dan pada saat itu ana sebagai ketua memilih argumen si kelompok A. Otomatis si Kelompok B kecewa dan marah kepada ana karena dianggap bebal mengambil sikap. Hari berikutnya, si Kelompok A dan kelompok B berdebat lagi maka si maka pada waktu itu ana memilih kelompok B..apa yang terjadi, sudah bisa dipastikan kekecewan datang dari kelompk A kepada Ana...artinya komplit ana yang menjadi pihak tersalah.
Inilha yang kuberikan kepada kalian Ikhwafilaah:
1 Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang selalu berpikir positif,karena meyakinan, nilai dan perilaku mereka akan berpengaruh. Sangat penting kita meluangkan waktu, terutama dengan mereka yang optimistis dan memiliki motivasi tinggi.
Tidak mudah membangun optimisme dan motivasi tinggi. Kuncinya kita harus terus bergabung dengan mereka yang berpikir positif. Mereka yang dipikirannya tidak tebebani dengan persoalan yang dihadapi KAMMI, tapi pemikirannya adalah selalu menghadapi masalah dengan optimisme tinggi.
2 Belajarlah dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Senantiasalah kita sadari bahwa segala nilai, besar atau kecil, dibentuk dari akumulasi kebijakan. Untuk menjadi bijak, kita harus berpengalaman, baik pengalaman benar atau pun pengalaman salah, hingga kita pun mampu menjadi lebih kuat dan lebih cerdik di masa yang akan datang. Kesalahan akan sangat bermanfaat, apabila kita belajar darinya, milikilah perilaku ini sehingga kita tak akan merasa malu mencoba apa pun.
Banyak kesalahan kita masalalu. Misalnya, kita tidak punya dana saat mengadakan seminar dan tidak adapula tenaga moderator. Maka jangan ada sikap, kita tidak perlu lagi seminar, takut terjadi kesalahan yang sama. Oh tidak, bukan begitu akhi..ukhti, harunsnya kita mengerjakan program yang sama, akan tetapi kita sudah berupaya untuk menciptakan sumber daya keuangan dan juga sumber daya moderator agar tidak terjadi kesalahan yang sama.
3 Waktu memang merupakan sesuatu yang tak mampu kita beli berapapun harganya, bila ia telah lewat. Seringkali pula kita merasa kekurangan waktu. Padahal untuk berleha di rumah kita sangat luang..Maksudnya apa? dimana waktumu yang sempit? Adakah waktu pukul dua siang sampai empat sore untuk kuliyah? Ada, tapi jarang kan kta kuliuyah pada waktu seperti itu? Sebenarnya sudah tidak realistis jika mahasiswa yang sibuk sepanjang waktu, kecuali mereka yang tertuntut oleh Maisyah.
4 Sedikit demi sedikit, lama kelamaan menjadi bukit. Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama. Lakukanlah langkah kecil sekarang juga! Kalau memang antum semua tidak bisa bekerja penuh bagi KAMMI, paling tidak ada proses sedikit itu. Ok!
5 Kaji seawal mungkin apa-apa yang diperkirakan bakal jadi hambatan, gangguan, atau tantangan, atau ketidaktentuan. Apa yang diperkirakan bakal menjadi faktor negatif. Kekuarangan dukungan, pengetahuan tehnis, waktu, ruangan, energi, uang, atau kekurangan pengalaman, semuanya akan membuat tugas kita menjadi sulit. Tangani sedini mungkin, sehingga kita merasa sangat positif dan peluang keberhasilan tampak lebih terang. Dengan itu kita akan mampu menyelami lautan tugas kita dengan menyenangkan.
6. Kebalilah ke ashalah kita...ini adalah tugas dakwah, bukanlah ana yang membebani amanah itu. Tidak! Allah lah yang membebani itu. Jika antum yang membawa beban itu sampai kepuncaknya, bukankah pahala yang Allah akan beri itu sangat besar.
tapi sekali lagi itu adalah urusan kalian mau menerimanya atau tidak. Ana yakin Allah akan menunjukkan jalan. Allah pula yang akan memberikan rahmat-Nya sehingga dakwah ini akan sukses. Jundullah itu Allah selalu turunkan.
Kepada Jundullah, majulah!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar