Dua dasawarsa tambah 3 tahun..
Waktu yang cukup lama....
Namun ternyata hanya sekejap..
Sepertinya belum sempat kaki kecilku melangkah jauh..
Dihadapanku telah berdiri seekor singa yang bernama dosa..
Juga manusia bernama wanita..yang lebih baik berjalan dibelakang seekor harimau daripada dibelaknag mahluk satu ini..
Mengenal Islam lewat jenggot dan surban..
Menangis ditengah malam saat sayup..didalam mesjid kudengar sahabat terseduh..
kemudian belajar tentang memorian Al Banna..
Sampailah aku di jamaah
Yang kadang kubahagia yang kadang pula ku kecewa
Ultah..
entah siapa yang memulai..
Lilin dan kado hampir tak pernah kunikamati
Hanya kado setahun yang lalu dari seorang sahabat
Kaset tentang "cinta"..mungkin supaya saya taubat
Karena saya manusia yang paling jahat
Tapi..sungguh sayang, sungguh tak nikmat..
Kaset itu berada ditangan orang yang tak kukenal..
Sungguh sayang kaset itu belum sempat kudengar
Ini bukan puisi..
hanya ungkapan perasaan biasa
dipisah-pisah
tentang diriku yang semakin dewasa
diusia dua puluh tiga
besak hari jum'at...tepat tanggal dua puluh lima
hari ultah..
Ultah..
lucu juga kalau mengingat haru birunya
Kisah temanku har yang selalu mengundang semasa kecil untuk menyaksikan ia meniup lilin
atau saat mubarak temanku di Mivo dulu..
saya berikan kado ultah..sisir loreng, mainan mobil tank, "CD" bergambar Tom n Jery, CD berwarna loreng, dan 1 buah Foto 10 r didalam sebuah kanvas.
Kamis, 24 Juli 2008
Minggu, 01 Juni 2008
Malu Aku Jadi Nurdiansyah
"Langit akhlak rubuh, di atas negeriku yang berserak serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di RoxasBoulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dan , Champs 'Elyees dan Mesopotamia
Dan di sela khlayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan mata topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia"
Itulah kata ayahanda kita
Taufik Ismail si raja sastra Indonesia
Coba pikir! Bagaimana kalau puisi ini kuganti saja
"Malu aku jadi orang Sulawesi Tengah"
Tapi jelas tak bisa
Kenapa?
Karena aku tak pernah keluar daerah, apalagi negara
Aku juga tak punya kacamata
Topi baret juga, jangankan itu, kofiah pun aku tak ada
Ah...
Aku malu jadi Nurdiansyah
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di RoxasBoulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dan , Champs 'Elyees dan Mesopotamia
Dan di sela khlayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan mata topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia"
Itulah kata ayahanda kita
Taufik Ismail si raja sastra Indonesia
Coba pikir! Bagaimana kalau puisi ini kuganti saja
"Malu aku jadi orang Sulawesi Tengah"
Tapi jelas tak bisa
Kenapa?
Karena aku tak pernah keluar daerah, apalagi negara
Aku juga tak punya kacamata
Topi baret juga, jangankan itu, kofiah pun aku tak ada
Ah...
Aku malu jadi Nurdiansyah
Selasa, 08 April 2008
Galery N3G
Senin, 31 Maret 2008
Berbagi Informasi
Hai saudaraku..
Bagi kamu yang tak bisa mengirim Komentar kamu, bisa kirim saja ke email saya di n3g_alwafie@yahoo.co.id atau nds.n3g@gmail.com!!!
Bagi kamu yang tak bisa mengirim Komentar kamu, bisa kirim saja ke email saya di n3g_alwafie@yahoo.co.id atau nds.n3g@gmail.com!!!
Selasa, 20 November 2007
PERJALANAN SPIRITUAL
Bagi keluargaku Shalat adalah aktifitas yang harus dilaksanakan pada tiap harinya. Tak boleh ketinggalan amalan ini, sekali ditinggalkan ancamannya adalah neraka. Ayahku memang lulusan mu'alimin pernah menjadi Ustad di Ternate., Ibuku hanya pengurus Rumah Tangga biasa namun kasih sayangnya kepada ayahku sangat besar sehingga apa yang diamalkan oleh ayahku ibukupun mengamalkannya, aku dan 5 orang saudaraku juga melaksanakan amlan ini.
Dari usia sekitar 6 Tahun aku sudah terbiasa dengan amalan ini namun sampai aku duduk di Sekolah Dasar tak pernah aku tahu apa yang akan dibaca dalam gerakan ini. Yang kuketahui hanya Al Fatihah stelah takbir kemudian membaca surat-surat pendek adapun bacaan yang lain aku sama sekali tak faseh mengucapkannya karena tidak hafal.
Ketika mengaji al qur'an aku termasuk anak yang bandel, sering bolos dan berbohong dengan orang tua. Dan akhirnya dengan ulahku ini aku ketahuan sudah hampir sebulan aku tak masuk. Ibuku marah besar dan memaksaku untuk mengaji lagi. Tidak berapa lama aku masuk aku membujuk orang tuaku agar aku lebih baik sekolah Sore Madrasah Ibtidayah saja. Keinginanku terpenuhi tapi di MI aku juga sering melakukan hal yang sama, namun aku tetap lulus karena kelas 3 aku mulai lebih aktif, bahkan menjadi ketua kelas saat itu.
Lulus SD aku memilih sekolah di Madrasah Tsanawiyah Di Kampungku. Walau tak begitu berprestasi aku masih tetap berada dalam peringkat 10 besar. Pelajaran yang paling aku sukai adalah Fikh, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Qur'an Hadits, Sejarah Ke Alkhairaatan. Sepertinya minat ingin mengetahui agama lebih besar ketibang belajar ilmu-ilmu yang lain.
Aku mulai belajar agama menghafal semua bacaan shalat-dan mereviu semua hafalanku. Amalan ibadaku bukan lagi tradisi tapi ada motivasi tersendiri.
DiMadrasah Tsanawiyah jugalah aku mulai mengenal gerakan islam. berawal dari simpatiku melihat salah satu gerakan yang datang didesaku untuk berdakwah. Jama'ah Tablig telah mengubah paradigmaku berpikir tentang hakikat diri. Iman tumbuh...saat pertama kali berada ditempat mereka. Entah? aku merasa tenang dihadapan mereka ukhwahnya sangat kuat sehingga telah mngikatku.
Dari usia sekitar 6 Tahun aku sudah terbiasa dengan amalan ini namun sampai aku duduk di Sekolah Dasar tak pernah aku tahu apa yang akan dibaca dalam gerakan ini. Yang kuketahui hanya Al Fatihah stelah takbir kemudian membaca surat-surat pendek adapun bacaan yang lain aku sama sekali tak faseh mengucapkannya karena tidak hafal.
Ketika mengaji al qur'an aku termasuk anak yang bandel, sering bolos dan berbohong dengan orang tua. Dan akhirnya dengan ulahku ini aku ketahuan sudah hampir sebulan aku tak masuk. Ibuku marah besar dan memaksaku untuk mengaji lagi. Tidak berapa lama aku masuk aku membujuk orang tuaku agar aku lebih baik sekolah Sore Madrasah Ibtidayah saja. Keinginanku terpenuhi tapi di MI aku juga sering melakukan hal yang sama, namun aku tetap lulus karena kelas 3 aku mulai lebih aktif, bahkan menjadi ketua kelas saat itu.
Lulus SD aku memilih sekolah di Madrasah Tsanawiyah Di Kampungku. Walau tak begitu berprestasi aku masih tetap berada dalam peringkat 10 besar. Pelajaran yang paling aku sukai adalah Fikh, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Qur'an Hadits, Sejarah Ke Alkhairaatan. Sepertinya minat ingin mengetahui agama lebih besar ketibang belajar ilmu-ilmu yang lain.
Aku mulai belajar agama menghafal semua bacaan shalat-dan mereviu semua hafalanku. Amalan ibadaku bukan lagi tradisi tapi ada motivasi tersendiri.
DiMadrasah Tsanawiyah jugalah aku mulai mengenal gerakan islam. berawal dari simpatiku melihat salah satu gerakan yang datang didesaku untuk berdakwah. Jama'ah Tablig telah mengubah paradigmaku berpikir tentang hakikat diri. Iman tumbuh...saat pertama kali berada ditempat mereka. Entah? aku merasa tenang dihadapan mereka ukhwahnya sangat kuat sehingga telah mngikatku.
Senin, 19 November 2007
AKU
Aku Dan Tuhanku
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

