Aku Dan Tuhanku
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar