Selasa, 25 November 2008

Sepenggal Kisah Fitnah di KAMMI Sulteng

Tiba-tiba saja temanku menanyakan
"Betul nang, kamu kirimkan surat ke Ika (bukan nama sebenarnya)?," interogasinya.
"Ahh surat apa, betul itu bukan saya, itu bukan saya," elakku.
"Surat cinta untuk Ika, tapi seperti tulisanmu, saya yakin itu tulisanmu."
"Wallahi itu bukan saya," suaraku agak berat, wajahku sepertinya memerah, antara malu besar dan juga marah besar.
"Ih tulisanmu itu nang," katanya lagi. Senyum sinis.
"Wallahi itu bukan saya, Wallahi..," kataku lagi, mengharap dia bisa percaya kalau itu bukan saya.

Sahabatku menginterogasiku. Wajahnya ganas. Kata-katanya menusuk. Hatiku lebam. Walau sudah menyebut nama Allah, dia tetap masih meyakini kalau sayalah yang menuliskan surat itu. Surat yang katanya, hanya secarik saja. Untaian puisi memuja-muja seorang akhwat di KAMMI. Surat yang di dapatkannya di bawah meja Komputer, yang telah kumal, bekas genggaman kemarahan seorang wanita. Sayang surat itu, tak terbubuhkan nama penulis.

Ya Allah....inilah masalah yang terberat bagi saya, saat itu. Saya seakan dipojokkan dengan tulisan yang sangat mirip dengan tulisan tanganku ini. Sekali lagi, saya sangat malu, betul-betul sangat malu. Ingin rasanya kupukul saja sahabatku ini. Atau kubunuh saja dia..jangan dia sahabatku.

Kutaruh dimana wajahku. Surat tanpa nama itu, telah menuduhku, seakan dia telah membentangkan tulisan yang sangat besar di wajahku, "NANANG MENULISKAN SURAT UNTUK AKHWAT."

Padahal, belum lama itu, kami menghadapi masalah, seorang kader Ikhwan yang mengikuti DM 2 mengirimkan surat buat Akhwat. Kini masalah itu sekan berarah ke saya, dan saya telah divonis MUNAFIK!!!

Sedangkan akhwat itu, saya tidak tahu bagaimana perasaannya. Atau jangan-jangan dia akan menuduhku juga. Bahkan sudah dengan tegas akan membenciku seumur hidup. Menanyakannya juga saya malu. Saya akhirnya menyikapi serba salah, menghindar darinya takut dianggap tulisan itu bnear. Biasa saja, takut dianggap tak tahu malu. Mendekatpun, takut dikira sedang pendekatan. Biarlah nanti Allah saja yang membuktikan di akhirat nanti.

Olehnya, kepada siapapun kalian yang dikirimkan surat, yang tak bernama, buang saja surat itu!!! Itu namanya tidak jantan. Dan ikhwan itu terlalu HIPOKRIT. Bagi siapapun kalian yang mendapatkan surat yang tak bernama! Jangan langsung menuduh tolong tabbayun dulu! Apalagi bagi anak KAMMI.

Kepada temanku, Kita terkadang terlalu yakin dengan pengetahuan diri. Kita merasa tahu segalanya sehingga seolah-olah memiliki otoritas untuk membuat kesimpulan mengenai sesuatu hal. Atau kalau menyangkut kepribadian orang lain, kita sering merasa tidak perlu informasi lebih lanjut karena kita merasa cukup pengetahuan mengenai jati diri orang itu sebenarnya.

Kesalahan terbesar seseorang adalah ketika ia menganggap dirinya telah cukup pengetahuan sehingga ia tidak memiliki itikad sedikitpun untuk melakukan cek ricek, tabayyun, konfirmasi balik. Tentang suatu kejadian, ia langsung menyimpulkan ini itu. Tentang diri seseorang, ia langsung menyimpulkan ini itu, menilai begini itu. Dengan pengetahuan sedikitnya, ia merasa sudah banyak pengetahuan. Dengan interaksinya dengan orang lain yang sebentar, ia merasa sudah berhak membuat kesimpulan mengenai diri seseorang itu padahal boleh jadi apa yang disimpulkannya itu hanya akan membuahkan fitnah dan kebohongan, jauh dari fakta sebenarnya. Keterbatasan yang dimilikinya tiada pernah disadari. Ia terjebak dalam ujub diri, merasa punya kemampuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal atau orang lain tanpa diiringi dengan sikap kehati-hatian. Maka ia pun mudah berkomentar tanpa dipikir lebih dalam lagi. Ia mudah menilai sesuatu tanpa mencari dulu fakta yang benar.

Yang lebih fatal lagi adalah ketika kecerobohan sikap ini disebarkan ke orang lain. Kalau menyangkut diri seseorang, maka betapa ia akan menumbuhkan sikap kebencian dari orang yang dirugikannya atas pemberitaan yang tidak benar. Prasangka dikira kebenaran. Prasangka melahirkan kebohongan. Prasangka yang tidak disertai tabayun akan melahirkan kerenggangan hubungan sesama.

Kita berlindung dari Allah dari sifat sombong, ujub diri, dengki, dan fitnah. Kita ini makhluk yang sangat terbatas. Terbatas ilmunya. Terbatas pengetahuannya. Bila kita sadar bahwa kita terbatas, maka kita akan menjadi manusia yang sangat hati-hati. Hati-hati dalam menyikapi sesauti. Hati-hati dalam menilai sesuatu. Hati-hati dalam membuat kesimpulan terhadap suatu kejadian. Hati-hati meski sekedar dalam hati.

4 komentar:

3g@ azzahra mengatakan...

whats?...surat cinta? korban ketidak tabayunan juga toh....asal yang betul gak pernah berhubugan dengan wanita,biar allah,rosul,dan orang-orang beriman yang menilainya...kalo ada sahabat yang gak baik,berarti kamu gak berhasil menjadi sahabat yang juga baik untuk dia...

dulmatigheid mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dulmatigheid mengatakan...

Subhanallah...(perkataan awal yang baik untuk memulai sesuatu yang wah).

eh tu kisah nyata yaaa....??? hehe kasian juga eee jad korban fitnah. sabar jo eee, innallaha ma'asshobirin...
hehe sory nantua..
By: Mujahid_funky06

3g@ azzahra mengatakan...

makasi ya...saranya selalu buat hati tenang..saya hanya bisa berdoa allah swt,memberi yang terbaik dalam setiap jengkal skenario hidup mu. teruslah belajar saudaraku...