oTanggal 21 Desember nanti, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah akan melaksanakna Musyawarah Daerah (MUSDA). Di tengah-tengah rencana itu, KAMMI Sulteng mengalami krisis kader dan krisis pemimipin tentunya. KAMMI Sulteng selam setahun ini mengalami kondisi yang mengenaskan. dimana KAMMI sama sekali tak lagi diperhitungkan di Sulteng.
Wajar KAMMI tak diperhitungkan. Dalam rana politik KAMMI tidak bisa bersuara secara tegas. Banyak isu-isu terlewatkan, misalnya, Isu Pembangunan MAAL Tatura yang berdekatan dengan Pasar Tradisional, Isu Maal Tatura yang berhutang diambil alih Pemkot, Isu Pemadam Listrik yang berkepanjangan, Isu Perda Zakat, semuanya tak diakomodir untuk kemudian dieksekusi sebagai penghujam kezaliman pemerintah. Kemandulan ini sangat disayangkan.
Dahulu, ketika saya memulai diskusi tentang masalah kedaerahan, betapa saya bangga kepada teman-teman yang antusias mengikuti kegiatan, yang saya namakan Bicara Studi Kasus Politik (BISIK) ini. Pembahasan awal cukup mengembirakan bagi saya, karena teman-teman begitu kritis mengungkapkan argumennya. Namun ternyata saya sadar pada saat itu KAMMI hanya berbicara soal Kampus. Wah, basi!! Karena bila dipikir-pikir masalah tentang kampus adalah hal yang wajar diketahui oleh kader. Saya semakin sadar kalau ternayata secar tehnis KAMMI Daerah tak layak membicarakan urusan kampus, itu urusan KAMMI Komisariat.
Lama kelamaan kondisi BISIK semakin mengambang, pertemuan ketiga dan keempat teman-teman sudah muali jumud. Saya marah-marah dengan ini. Melihat sikapku, merekapun kembali meramaikan BISIK, namun bukan niat diskusi akan tetapi sekedar mengahragai. Sungguh mereka tak sadar, niatan kasian kepada saya, namun ternyata menjadikan KAMMI kasian di mata Mahasiswa.
Sayapun merubah format BISIK dengan membicarakan soal Idealisme-idealisme berkembang. Ah, dalam hati saya berteriak, mengapa KAMMI Daerah kembali pada pembahasan yang sangat basic. Terlalu terlenakah KAMMI dengan dakwah Kampus? sehingga melupakan track-nya sebagai da'i yang ada di daerah? Sungguh terlalu.
Kalau begini KAMMI jadi apa? Mungkin beginilah KAMMI, lebih suka membahas masalah kampus, atau mahasiswa saja. Coba lihat? KAMMI itu hanya konsolidasi melulu, alasannya memulihkan KAMMI. Akhirnya BISIK yang terakhir yang kulaksanakan tamat dengan pembahasan soal Mahasiswa lagi, itupun di taman kota, ditemani bunga-bunga, kicauan burung dan tarian kupu-kupu.. sungguh indah kenangan terakhir itu.
Saat saya mengusulkan untuk demo PLN, teman-teman semua kelihatan kurang merespon. pertanyaan yang paling menyakitkan bagi saya saat itu; "Eh tetap jadi tidak aksi kita? Kayaknya listrik sudah menyala ini. Dan kata Ali Lamu (Anggota DPRD) , hari senin ada hearing. jadi kayaknya sudah selesai masalahnya," ada juga yang mengatakan,"Sudah basi membahas PLN." saya tidak terima akan hal ini, kader KAMMI tidak menganalisa masalah ini secar jelas. Mana mungkin ada hearing kalau tidak ada masalah, tidak ada yang basi dengan ini, sebab jika manajemen PLTU sebagai pemasok listrik tidak becus, maka kita maslah ini akan terus berkelanjutan. Terbukti, sampai saat ini, masalah listrik di kota Palu tidak pernah selesai.
Masih ingat pula saya dengan kata-kata teman-teman luar daerah saat saya mengikuti Daurah Marhalah dua, di Kendari. Mereka mengatakan, KAMMI Sulteng terlalu "Melankolis," betapa malunya saya. Rasanya saya ingin bergentayang saja diantara Kendari dan Palu, malu saya ada di Kendari, dan lebih malu bercampur gengsi jika ada di Palu.
Olehnya, saya berharap KAMMI kedepan akan memulai dirinya menjadi Mahasiswa yang betul-betul kritis dan idealis. Tak bernikmat-nikmat dengan "onani" membicarakan soal mahasiswa yang akhirnya merugikan KAMMI dan tentunya dirindukan perannya oleh masyarakat.
Akhi....sudah saatnya KAMMI berubah.
Karena, mahasiswa sebagai sosok intelektual yang memiliki mobilitas tinggi merupakan aset besar yang dimiliki oleh daerah ini , dimana peradaban lokal ditentukan oleh mereka, baik kah atau buruk. Masa muda adalah fase yang produktif dalam bergerak dan berkonstribusi.
Harapan saya, ketika terbentuknya pengurus KAMMI Sulteng, periode 2009-2011, KAMMI akan diperhitungkan oleh rakyat, ataupun pemerintah. Sehingga KAMMI-lah stackholder yang diakui suaranya, sebagai suara yang murni aspirasi rakyat.
Pemimpin nantinya
Harapan saya tentang akan kembalinya KAMMI menjadi mesin pencetak kader baik secar kualitas dan kualitas, maka haris dibutuhkan kepemimpinan yang baik. Belajar dari kesalahn masalalu, say pikir KAMMI saatnya berubah, jangan sampai semua Departemen yang bekerja pada lingkup ekstra kampus dipandang sebelah mata. Misalnya, Departemen Kebijakan Publik yang diamanahi kepada kader yang tidak Alim, "Kasar", bahkan akhirnya bukan kader kammi secara akreditas.
Saya tak mau menjadi pemimpin KAMMI Sulteng, Insya Allah tak ada yang mencalonkan saya. Saya akan merekomnedasikan dua nama yang akan naik kepentas perhelatan akbar KAMMI Sulteng ini, yaitu Ivan dan Ikbal.
Mungkin jika merunut pada keluhanku, saya lebih memilih Ikbal untuk menjadi Ketua KAMMI sebab, saya meilhat padanya ada ketegasan. Ia juga sanagt kritis dibanding teman-temanlainnya. Pemikirannya analitik. Pad saat orasi, suanya lebih lantang terdengar darpiada Ivan, selain itu kata-katanya tertata saat berbicara atau sedang berorasi. Namun, kehadirannya di KAMMI belum hitungan tahun, temtunya menjadi penghambat. Dia dianggap tak berpengalaman dan masih belajar berdiri untuk memimpin KAMMI.
Lain lagi Ivan, pengalamannya di KAMMI sudah hitungan lebih dari 3 tahun. Masalah KAMMI tentunya sudah menjadi salah satu dari bagian hidupnya. Kerja-kerja di KAMMI juga tak lain adalah perannya. Ia juga mempunyai wawasan politik. Hanya saja, wawasanPolitik ini sangat pasif, ilmunya tak disalurkan. Antusiasme untuk berpolitik secara kedaerahan masih sedikit, mungkin karena ia terbiasa mengurusi komisariat dan kaderisasi.
Tapi terlepas dari kelemahan mereka, satu dari mereka berdua terpaksa dijadikan pemimpin KAMMI kedepan. Dan membantu mereka adalah kewajiban kita, selama mereka belum keluar dari koridor yang telah diatur oleh KAMMI. Mudah-mudahan KAMMI akan Sukses!!!!
2 komentar:
akhi..nanang,nurdiansyah,ato apalah nama mu.semua kader memilih mu untuk jadi pemimpin itu..komiu mampu membangkitkan jiwa kami yang telah lama tertidur,membangkitkan iradah itu,jwb satu pertaxaanku, apa yang menguatkan kami untuk tidak memilihmu??ivan dan ikbal sangat tdk mau untuk menjadi pemimpin itu, maka ku ucap kan selamat bermimmpi...melihat kammi menjadi idealis,kritis,dan pastinya masi berkutat pada permasalahan kampus.dan kaw akan berkata lagi BASI...!kammi akan bangkit,tentunya ada atau tanpa seorang nanang.karena dia hanya akan menertawai kami dari belakang,dan dengan banggax memakai atribut kammi..sudah lah...kami tak akan menggangu mu lagi dengan segelumit masalah yang basi.karena kammi akan di pimpin oleh seorang wanita saja...elda,nia,atau nunung.dan tugasmu hanya mengamati kami ruang hati mu yang sebenarnya gelisah.
innalillah.... ustad, penilaiannya antum terhadap si IQBAL terlalu berlebihan. Tp kalau untuk masih hijaunya beliau di KAMMI itu dah benar. sepakaaaaat.
kalau orang2 seperti antum harus merasa tidak pantas untuk menjadi orang no.1 di KAMMI sulteng, maka sudahlah... kasikan akhwat ja yang memimpin periode kedepan. Tapi ingat, keinginan untuk menjadikan KAMMI sulteng kritis,idealis, dan is-is yang lain hanya akan sebatas mimpi belaka.... Tetap semangat. antum menjadi yang terpantas dan terbaik bagi keberlangsungan KAMMI ke depan (menurut ana pribadi).
saudaraku,,,, bulatkan tekad, kuatkan azzam, untuk selalu tegak seperti batu karang ditengah derasnya ombak lautan. Laa Izzaata Illa Bil Jihad.... Allahu Akbar.
By: mujahid_funky06
Posting Komentar