Jumat, 26 Desember 2008

Untuk tak lagi...

Untuk apa lagi
Mencari muka disini
Menyinggung di tirai maya
Menangkap sisi-sisi balita
Mengingatkan seakan di belantara
Menuduh agar terpaku
Melirik untuk dikenang seumur baqa
Urusan itu bukan milik siapa-siapa
Gerak jemari tak mampu meluluhkan hati
Sebab ku sudah mengorbitkan hati jauh di ujung benci
Cuiih...
Lepaskan saja belenggu, iri dan dengki
Agar semua tak lagi...

Minggu, 21 Desember 2008

Amanah oh Amanah....

Imam Ghazali: “Apa yang paling berat didunia? “

Murid 1: ” Baja “

Murid 2 : ” Besi “

Murid 3 : ” Gajah “

Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh.” [QS. Al Ahzab : 72 ].


Tidak pernah kuduga jika anak panah (Amanah) itu mengarah kepadaku. Ia telah memanah tubuhku, hingga saya lemas dan tak bisa mengungkapkan kata-kata.

Awalnya saya mengarahkan mata panah itu kepada temanku Ivan dan Ikbal. Tapi tak kuduga ia langsung melesat mengenai tubuhku.

Sudah sekian kali saya menerima amanah di organisasi lain, tapi entah? Baru kali ini saya menerima amanah dengan hati yang sangat berat, berat sekali. WALLAHI berat sekali.

Berbagai alasan teman-teman kandidat lainnya, menyakitkan dan TIDAK JELAS. Sungguh sangat mengecewakan. Tapi mau dikata apalagi dia sudah mengenaiku.


TADI......

Tadi saya di jalan terus menangis…saya yang anti melankolis, kini berubah cengeng. Di Rumah saya tidak banyak kata-kata, mungkin adikku rindu dengan tingkahku yang suka merayu atau rindu ingin mendengar canda tawaku. Tak tenang di rumah, saya langsung saja ke kantor, ternyata di sana saya masih berat menrima kenyataan. Leluconku di depan computer saat menulis sudah tak adalagi. Nescafe Original, minuman kesayanganku,nganggur di kantong,ia tak kuminum lagi.. Pokoknya semuanya serba tak menggairahkan.

Menulis blog pada malam ini pun saya tak bisa konsentrasi. Saya menulis jalan sesuai emosi. Saya tak peduli lagi dengan kaidah penulisan benar atau salah. Yang penting hatiku terluapkan di sini. Di malam ini. Mencoba menghapus semualuka tadi sore, saat teman-teman KAMMI menjerumuskanku ke jurang. Jurang yang sangat dalam, sambil berkata, “berjuanglah’bahkanadaa yang mengatakan “selamat”.


Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Murid 1 : ” Orang tua “

Murid 2 : ” Guru “

Murid 3 : ” Teman “

Murid 4 : ” Kaum kerabat “


Imam Ghazali : ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185). “

YA ALLAH…jangan kau dekatkan matiku dengan beratnya amanah di tubuhku!!!

YA ALLAH …YA ALLAH…..

Senin, 01 Desember 2008

Senyum, Pertanda....

































Terlepas dari perdebatan apakah mereka syahid ataupun tidak, namun dari wajah cerah dan senyum mereka...Allah telah membuktikan....

Selasa, 25 November 2008

Sepenggal Kisah Fitnah di KAMMI Sulteng

Tiba-tiba saja temanku menanyakan
"Betul nang, kamu kirimkan surat ke Ika (bukan nama sebenarnya)?," interogasinya.
"Ahh surat apa, betul itu bukan saya, itu bukan saya," elakku.
"Surat cinta untuk Ika, tapi seperti tulisanmu, saya yakin itu tulisanmu."
"Wallahi itu bukan saya," suaraku agak berat, wajahku sepertinya memerah, antara malu besar dan juga marah besar.
"Ih tulisanmu itu nang," katanya lagi. Senyum sinis.
"Wallahi itu bukan saya, Wallahi..," kataku lagi, mengharap dia bisa percaya kalau itu bukan saya.

Sahabatku menginterogasiku. Wajahnya ganas. Kata-katanya menusuk. Hatiku lebam. Walau sudah menyebut nama Allah, dia tetap masih meyakini kalau sayalah yang menuliskan surat itu. Surat yang katanya, hanya secarik saja. Untaian puisi memuja-muja seorang akhwat di KAMMI. Surat yang di dapatkannya di bawah meja Komputer, yang telah kumal, bekas genggaman kemarahan seorang wanita. Sayang surat itu, tak terbubuhkan nama penulis.

Ya Allah....inilah masalah yang terberat bagi saya, saat itu. Saya seakan dipojokkan dengan tulisan yang sangat mirip dengan tulisan tanganku ini. Sekali lagi, saya sangat malu, betul-betul sangat malu. Ingin rasanya kupukul saja sahabatku ini. Atau kubunuh saja dia..jangan dia sahabatku.

Kutaruh dimana wajahku. Surat tanpa nama itu, telah menuduhku, seakan dia telah membentangkan tulisan yang sangat besar di wajahku, "NANANG MENULISKAN SURAT UNTUK AKHWAT."

Padahal, belum lama itu, kami menghadapi masalah, seorang kader Ikhwan yang mengikuti DM 2 mengirimkan surat buat Akhwat. Kini masalah itu sekan berarah ke saya, dan saya telah divonis MUNAFIK!!!

Sedangkan akhwat itu, saya tidak tahu bagaimana perasaannya. Atau jangan-jangan dia akan menuduhku juga. Bahkan sudah dengan tegas akan membenciku seumur hidup. Menanyakannya juga saya malu. Saya akhirnya menyikapi serba salah, menghindar darinya takut dianggap tulisan itu bnear. Biasa saja, takut dianggap tak tahu malu. Mendekatpun, takut dikira sedang pendekatan. Biarlah nanti Allah saja yang membuktikan di akhirat nanti.

Olehnya, kepada siapapun kalian yang dikirimkan surat, yang tak bernama, buang saja surat itu!!! Itu namanya tidak jantan. Dan ikhwan itu terlalu HIPOKRIT. Bagi siapapun kalian yang mendapatkan surat yang tak bernama! Jangan langsung menuduh tolong tabbayun dulu! Apalagi bagi anak KAMMI.

Kepada temanku, Kita terkadang terlalu yakin dengan pengetahuan diri. Kita merasa tahu segalanya sehingga seolah-olah memiliki otoritas untuk membuat kesimpulan mengenai sesuatu hal. Atau kalau menyangkut kepribadian orang lain, kita sering merasa tidak perlu informasi lebih lanjut karena kita merasa cukup pengetahuan mengenai jati diri orang itu sebenarnya.

Kesalahan terbesar seseorang adalah ketika ia menganggap dirinya telah cukup pengetahuan sehingga ia tidak memiliki itikad sedikitpun untuk melakukan cek ricek, tabayyun, konfirmasi balik. Tentang suatu kejadian, ia langsung menyimpulkan ini itu. Tentang diri seseorang, ia langsung menyimpulkan ini itu, menilai begini itu. Dengan pengetahuan sedikitnya, ia merasa sudah banyak pengetahuan. Dengan interaksinya dengan orang lain yang sebentar, ia merasa sudah berhak membuat kesimpulan mengenai diri seseorang itu padahal boleh jadi apa yang disimpulkannya itu hanya akan membuahkan fitnah dan kebohongan, jauh dari fakta sebenarnya. Keterbatasan yang dimilikinya tiada pernah disadari. Ia terjebak dalam ujub diri, merasa punya kemampuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal atau orang lain tanpa diiringi dengan sikap kehati-hatian. Maka ia pun mudah berkomentar tanpa dipikir lebih dalam lagi. Ia mudah menilai sesuatu tanpa mencari dulu fakta yang benar.

Yang lebih fatal lagi adalah ketika kecerobohan sikap ini disebarkan ke orang lain. Kalau menyangkut diri seseorang, maka betapa ia akan menumbuhkan sikap kebencian dari orang yang dirugikannya atas pemberitaan yang tidak benar. Prasangka dikira kebenaran. Prasangka melahirkan kebohongan. Prasangka yang tidak disertai tabayun akan melahirkan kerenggangan hubungan sesama.

Kita berlindung dari Allah dari sifat sombong, ujub diri, dengki, dan fitnah. Kita ini makhluk yang sangat terbatas. Terbatas ilmunya. Terbatas pengetahuannya. Bila kita sadar bahwa kita terbatas, maka kita akan menjadi manusia yang sangat hati-hati. Hati-hati dalam menyikapi sesauti. Hati-hati dalam menilai sesuatu. Hati-hati dalam membuat kesimpulan terhadap suatu kejadian. Hati-hati meski sekedar dalam hati.

Senin, 24 November 2008

KAMMI Kritis Adalah Harapanku

oTanggal 21 Desember nanti, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah akan melaksanakna Musyawarah Daerah (MUSDA). Di tengah-tengah rencana itu, KAMMI Sulteng mengalami krisis kader dan krisis pemimipin tentunya. KAMMI Sulteng selam setahun ini mengalami kondisi yang mengenaskan. dimana KAMMI sama sekali tak lagi diperhitungkan di Sulteng.

Wajar KAMMI tak diperhitungkan. Dalam rana politik KAMMI tidak bisa bersuara secara tegas. Banyak isu-isu terlewatkan, misalnya, Isu Pembangunan MAAL Tatura yang berdekatan dengan Pasar Tradisional, Isu Maal Tatura yang berhutang diambil alih Pemkot, Isu Pemadam Listrik yang berkepanjangan, Isu Perda Zakat, semuanya tak diakomodir untuk kemudian dieksekusi sebagai penghujam kezaliman pemerintah. Kemandulan ini sangat disayangkan.

Dahulu, ketika saya memulai diskusi tentang masalah kedaerahan, betapa saya bangga kepada teman-teman yang antusias mengikuti kegiatan, yang saya namakan Bicara Studi Kasus Politik (BISIK) ini. Pembahasan awal cukup mengembirakan bagi saya, karena teman-teman begitu kritis mengungkapkan argumennya. Namun ternyata saya sadar pada saat itu KAMMI hanya berbicara soal Kampus. Wah, basi!! Karena bila dipikir-pikir masalah tentang kampus adalah hal yang wajar diketahui oleh kader. Saya semakin sadar kalau ternayata secar tehnis KAMMI Daerah tak layak membicarakan urusan kampus, itu urusan KAMMI Komisariat.

Lama kelamaan kondisi BISIK semakin mengambang, pertemuan ketiga dan keempat teman-teman sudah muali jumud. Saya marah-marah dengan ini. Melihat sikapku, merekapun kembali meramaikan BISIK, namun bukan niat diskusi akan tetapi sekedar mengahragai. Sungguh mereka tak sadar, niatan kasian kepada saya, namun ternyata menjadikan KAMMI kasian di mata Mahasiswa.

Sayapun merubah format BISIK dengan membicarakan soal Idealisme-idealisme berkembang. Ah, dalam hati saya berteriak, mengapa KAMMI Daerah kembali pada pembahasan yang sangat basic. Terlalu terlenakah KAMMI dengan dakwah Kampus? sehingga melupakan track-nya sebagai da'i yang ada di daerah? Sungguh terlalu.

Kalau begini KAMMI jadi apa? Mungkin beginilah KAMMI, lebih suka membahas masalah kampus, atau mahasiswa saja. Coba lihat? KAMMI itu hanya konsolidasi melulu, alasannya memulihkan KAMMI. Akhirnya BISIK yang terakhir yang kulaksanakan tamat dengan pembahasan soal Mahasiswa lagi, itupun di taman kota, ditemani bunga-bunga, kicauan burung dan tarian kupu-kupu.. sungguh indah kenangan terakhir itu.

Saat saya mengusulkan untuk demo PLN, teman-teman semua kelihatan kurang merespon. pertanyaan yang paling menyakitkan bagi saya saat itu; "Eh tetap jadi tidak aksi kita? Kayaknya listrik sudah menyala ini. Dan kata Ali Lamu (Anggota DPRD) , hari senin ada hearing. jadi kayaknya sudah selesai masalahnya," ada juga yang mengatakan,"Sudah basi membahas PLN." saya tidak terima akan hal ini, kader KAMMI tidak menganalisa masalah ini secar jelas. Mana mungkin ada hearing kalau tidak ada masalah, tidak ada yang basi dengan ini, sebab jika manajemen PLTU sebagai pemasok listrik tidak becus, maka kita maslah ini akan terus berkelanjutan. Terbukti, sampai saat ini, masalah listrik di kota Palu tidak pernah selesai.

Masih ingat pula saya dengan kata-kata teman-teman luar daerah saat saya mengikuti Daurah Marhalah dua, di Kendari. Mereka mengatakan, KAMMI Sulteng terlalu "Melankolis," betapa malunya saya. Rasanya saya ingin bergentayang saja diantara Kendari dan Palu, malu saya ada di Kendari, dan lebih malu bercampur gengsi jika ada di Palu.

Olehnya, saya berharap KAMMI kedepan akan memulai dirinya menjadi Mahasiswa yang betul-betul kritis dan idealis. Tak bernikmat-nikmat dengan "onani" membicarakan soal mahasiswa yang akhirnya merugikan KAMMI dan tentunya dirindukan perannya oleh masyarakat.

Akhi....sudah saatnya KAMMI berubah.
Karena, mahasiswa sebagai sosok intelektual yang memiliki mobilitas tinggi merupakan aset besar yang dimiliki oleh daerah ini , dimana peradaban lokal ditentukan oleh mereka, baik kah atau buruk. Masa muda adalah fase yang produktif dalam bergerak dan berkonstribusi.

Harapan saya, ketika terbentuknya pengurus KAMMI Sulteng, periode 2009-2011, KAMMI akan diperhitungkan oleh rakyat, ataupun pemerintah. Sehingga KAMMI-lah stackholder yang diakui suaranya, sebagai suara yang murni aspirasi rakyat.

Pemimpin nantinya

Harapan saya tentang akan kembalinya KAMMI menjadi mesin pencetak kader baik secar kualitas dan kualitas, maka haris dibutuhkan kepemimpinan yang baik. Belajar dari kesalahn masalalu, say pikir KAMMI saatnya berubah, jangan sampai semua Departemen yang bekerja pada lingkup ekstra kampus dipandang sebelah mata. Misalnya, Departemen Kebijakan Publik yang diamanahi kepada kader yang tidak Alim, "Kasar", bahkan akhirnya bukan kader kammi secara akreditas.

Saya tak mau menjadi pemimpin KAMMI Sulteng, Insya Allah tak ada yang mencalonkan saya. Saya akan merekomnedasikan dua nama yang akan naik kepentas perhelatan akbar KAMMI Sulteng ini, yaitu Ivan dan Ikbal.

Mungkin jika merunut pada keluhanku, saya lebih memilih Ikbal untuk menjadi Ketua KAMMI sebab, saya meilhat padanya ada ketegasan. Ia juga sanagt kritis dibanding teman-temanlainnya. Pemikirannya analitik. Pad saat orasi, suanya lebih lantang terdengar darpiada Ivan, selain itu kata-katanya tertata saat berbicara atau sedang berorasi. Namun, kehadirannya di KAMMI belum hitungan tahun, temtunya menjadi penghambat. Dia dianggap tak berpengalaman dan masih belajar berdiri untuk memimpin KAMMI.

Lain lagi Ivan, pengalamannya di KAMMI sudah hitungan lebih dari 3 tahun. Masalah KAMMI tentunya sudah menjadi salah satu dari bagian hidupnya. Kerja-kerja di KAMMI juga tak lain adalah perannya. Ia juga mempunyai wawasan politik. Hanya saja, wawasanPolitik ini sangat pasif, ilmunya tak disalurkan. Antusiasme untuk berpolitik secara kedaerahan masih sedikit, mungkin karena ia terbiasa mengurusi komisariat dan kaderisasi.

Tapi terlepas dari kelemahan mereka, satu dari mereka berdua terpaksa dijadikan pemimpin KAMMI kedepan. Dan membantu mereka adalah kewajiban kita, selama mereka belum keluar dari koridor yang telah diatur oleh KAMMI. Mudah-mudahan KAMMI akan Sukses!!!!

Senin, 10 November 2008

Untuk Mujahid Kita


Peristiwa Gaib Saat Pemakaman Amrozi Cs
Senin, 10 November 2008 05:00
Iring-iringan Jenazah

- Suasana menjelang pemakaman Amrozi Cs menyiratkan sejumlah hal gaib. Jenazah Imam Samudra mengeluarkan bau wangi semerbak saat ingin dikeluarkan dari peti mati di Polda Banten.

Lulu Jamaluddin di rumah duka, Lopang Gede, Serang, Minggu (09/11), mengatakan, "Ya Allah, jenazah kakak wangi sekali waktu dikeluarkan dari peti. Seperti minyak wangi yang sering dipakainya,".

Peristiwa bau wangi tersebut juga terjadi pada jenazah Al Ghozi, tersangka dengan tuduhan sebagai teroris yang meninggal dunia ditembak polisi Filipina, demikian kesaksian dari seorang kerabatnya tidak diketahui namanya itu. "Jenazah Al Ghozi begitu wangi, ini menunjukkan almarhum mati syahid," katanya.

Keyakinan yang sama juga datang dari Lulu, adik kandung Imam Samudra. Dia mengatakan, "Kakak saya ya pasti mendapatkan tempat yang layak di surga seperti yang dicita-citakannya.".

Wangi yang timbul dari jenazah Imam Samudra ini adalah wangi parfum yang biasa digunakan almarhum semasa hidup, bukan wangi kapur barus yang biasa digunakan bersama kain kafan.

Kejadian aneh juga terjadi di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, Minggu (09/11) yaitu sekitar satu jam sebelum kedatangan jenazah, muncul tiga burung belibis hitam mengitari rumah Amrozi. Kontan hal ini membuat warga yang memadati area sekitar rumah Hj.Tariyem takjub. H.Ahmad mengungkapkan, "Ini tanda jenazah mereka langsung bertemu dengan Allah. Burung itu bidadari yang menjemput,".

Kehadiran tiga burung tersebut membuat massa kafilah Syuhada serentak mengucapkan kalimat takbir berkali-kali. Mereka yakin ketiga jenazah akan masuk surga.

Sesuai permintaan, eksekusi Amrozi Cs berlangsung tanpa penutup wajah. Tak ada rasa takut yang hinggap di diri mereka. Hal ini terlihat pada wajah Imam Samudra yang tersenyum dalam damai seperti sedang tidur saja. Lulu pun mengatakan, "Wajah kakak ganteng banget, senyum, bersih, gemuk. Subhanallah. Saya senang melihat ini dan tidak percaya. Kalau dulu saya sering nonton ini di TV tapi sekarang ini saya alami sendiri,".

(dari berbagai sumber)


Klik di sini untuk berita mujahid kita : www.syukran.wordpress.com

Jumat, 07 November 2008

Sahabat Sehati

eeemmm....mo nulis apa ee?
emmmmm....mmmm...emmm..
oh ini jo, tentang sahabat sehati.
Jadi, ternyata dunia tercipta manusia yang mempunyai minat dan rasa yang sama. yaa...walau tidak semua minat dan rasa yang sama, tapi paling tidak, minat dan rasa yang sedikit sama itu menjadi bukti peresahabatanku.
ada beberapa sahabat sehatiku...bagiku itu betul-betul sehati.
Untuk Posting kali ini untuk Zaenal
Zaenal, ia sering disapa zen(aauwww, nemo me sapa!!). Ada banyak sebenaranya indikasi kami bisa disebut sehati. Yang paling menonjol adalah saat memilih wanita, bagaiamana kriterianya, begitupun kriteriaku. entah, itu kenapa bisa sama.
Kisah unikku,terkait dengannya.
dulu, ia pernah bercerita kalau ia sudah menghitbah akhwat eh salah, masturah sebut kami saat itu. saat itu umurnya masih sekitar 17 atau 18, masih sma kelas 3. Nekat kan? Dengan kecerdasannya, Ia beri logika cinta butanya ke ortu si maturah, apolojinya kalau ia menikahinya setelah kuliyah atau tamat kuliyah. gila!!.
saat berecerita, dari romannya, ia sangat bahagia bukan kepalang. ia menyebutkan semua kriteria masturah pilihananya ini ke saya. katanya, si wanita pilihannya ini tidak terlalu cantik, biasa saja, tapi menarik. tak lupa ia juga menyebut alamat anak itu.
akhirnya, saya penasaran juga, yang mana sih orangnya? untuk menjawab rasa penasaranku, saya di ajaknya ke rumah si masturah ini. Pasar Inpres, agak lewat bundaran, perempatan, masuk lorong sebelah kana dari timur, jalaann terus, ada banyak polisi bobo, nah rumahnya paling ujung sebelah kiri. Yesss..ketemu juga rumahnya. Namun, aaahhh gagal...ternyata si makhluk Tuhan yang paling tertutup itu tak ada di rumah. kurang ngajar. maka penasaranku makin besaaaar. yaa..sabar-sabar-sabar, ana harus menunggu akhwat ini menikah dengan adindaku 5 tahun lagi.
2 Tahun berlalu..
Zen telah di tinggal mati bapaknya. tak mau menjadi beban keluarga. dan juga berniat membanggakan keluarga, ia nyantri selama beberapa tahun di Ponpes Nurul Khaeraat kanuna. ponpes yang sangat skolaktis, jauh dari kehidupan kota. kami hanya bisa bertemu dalam waktu yang sangat singkat, hanya hitungan jam saja, saat dia pulang, itupun kalau sempat bertatap muka denganku.
Kalau bertemu, kami tidak lagi membicarakan akhwat...bukan topik utama kami. mungkin karena sudah di atas 20 tahun. jadi sudah hampir 3 tahun kami melupakan wanita-wanita di hati kami.
Suatu saat..
Di Kampusku, saat saya menjadi senior di MPM. Saya diundang mahasiswa baru ikut buka puasa bersama di rumah salah satu dari mereka. di sana, sekaligus membicarakan planning MPM. Kami duduk leter O layaknya Musywarah. saat sedikit kulirik di depanku, sedikit gadhul bashar, ada seorang wanita, akhwat berjilbab lebar. dibilang cantik tidak, tapi menarik ya sangat menarik (eeeiiit ini bukan jatuh cinta). melihatnya, ada semacam insting. kayaknya wajahnya tak asing? Kayaknya saya pernah bertemu dengannya? Tapi saya yakin tidak.
saya terus penasaran, kenapa akhwat ini? sepertinya tak asing bagiku? Mimpi, atau ketemu pun saya yakin tidak pernah. mmm...siapakah akhwat misterius ini? saya cari kabar siapa wanita ini. jawab teman-teman, dia anak HT. Loh anak HT? Akhwat Tarbiyah aja jarang ana kenal, apalagi HT?
Siapakah dia? kucari tahu lagi di mana alamatnya, kata teman-teman lagi, BIromaru. whattttt Biromaru? semakin misterius. ????????
Sudahlah otak pencarianku sudah lelah...
Begini kutebak saja.
Suatu waktu...
saat kami bercakap-cakap di serambi mushalah. wanita ini ingin mengenalku, karena katanya wajahku tak asing baginya. hhmmm...semakin penasaran. Tapi, dengan sangkaanku ini, pasti benar.
dia tanya ke saya. "Kakak tamatan mana?"
"Tamatan Aliyah ALkhairaat," jawabku.layaknya orang yang berekanalan, kepalanya mengangguk.
lanjutku "Saya di Aliyah Alkhairaat, kakak kelasnya Zaenal, Zaenal sering dipanggil dengan nama Zen, Mantan Ketua OSIS-ku dulu."
Saya tersenyum lebar. Alisnya mengerut, seakan bertemu. Wajahnya memerah. WAAAWWWW TEPAAATTTT. Ternyata tebakanku benar... Ialah wanita itu. (maaf yang membaca tulisan ini, diharap jangan suuzhan!!!! lebih berdosa daripada mengeksekusi mujahid, he he he fatwa apa ini)

Walau ragaku bukan ragamu
Walau cintaku bukan cintamu
Walau tangisku bukan tangismu
Namun di hatiku ada se titik tinta rasamu
Sahabtku. (Untukmu Zen)

Bersambung ke Kisahku dengan Ivan....

Jumat, 31 Oktober 2008

Balita Pencinta

Anak tetangga
Umurnya masih balita
Lidahnya lincah
Nanjodi, caleda kata keluarga
Rambutnya tak rata
Kulitnya kering tanah
Cantik… ya tidaklah

Melihat tingkahnya
Saya tanya
Hei, kamu sudah punya cinta?
Hei…balasnya kecewa
Nampaknya ia marah
Otaknya yang encer mungkin berkata
Saya masih merasa balita
Atau berpikir, kenapa orang dewasa selalu hanya cinta

Dia pun kembali berkata
Nang..berarti kamu belum kenal dia?
??????????????

Jumat, 10 Oktober 2008

Salahkah Saya Menjabat Tangan Wanita

Bersentuhan dengan wanita? Haram! Itulah keyakinanku. Tapi itu dulu. Sekarang, pemikiranku agak berbeda. Saya diliputi keraguan. Adakalanya saya merasa heran. Kenapa sampai diharamkan menyentuh tangan (kulit) wanita? Jawabannya, jika menyentuh tangan wanita, bisa memunculkan syahwat. Dalam artian ini, mendekati zina, la takrabu zina!

Namun tidak semua wanita diharamkan untuk disentuh. Misalnya, semuhrim (ibu, kakak perempuan, nenek, dan bibi), budak yang tak mempunyai suami, anak kecil, orang tua (Jompo), guru (orang tua yang kita hormati), wanita tomboy.

Mereka ini dapat disentuh, karena besar kemungkinan, ketika menyentuh tak ada “hasrat”. Berbeda dengan menyentuh wanita yang bukan muhrim, atau wanita yang mempunyai kepribadian normal. Ketika menyentuhnya, ada sedikit getaran (tak bisa ditafsirkan).

Menurutku, getaran tadilah yang dimaksud sebagai syahwat. Inilah yang diharamkan dalam islam. Namun dewasa ini, wanita dan laki-laki pada umumnya sering bersentuhan dan ini dianggap biasa, tak ada hasrat atau getaran yang muncul. Nah bagaimana dengan ini?

Itulah keraguanku, ketika wanita pada umumnya itu berjabatan tangan denganku, atau tak sengaja tangannya menyentuh kulitku, saya memang tak merasakan getaran apapun. Dalam artian semuanya ini biasa saja, tak ada syahwat. Nah apakah ini haram?

Logika saya lainnya, yaitu, dewasa ini pula, wanita sudah lumrah membuka aurat dimana-mana. Ketika saya berada didepan TV, saya melihat wanita membuka aurat. Ketika saya di depan Rumah, saya melihat wanita membuka aurat. Di kantor, di jalan, di toko, di kampus, dan di mana-mana wanita memperlihatkan aurat. Aurat yang saya maksud adalah rambut, leher, betis, paha, atau lekak-lekuk tubuh lainnya.

Sementara islam mengharamkan melihat aurat wanita. Tapi saya yakin, melihat aurat wanita ini tidak diharamkan, selama tidak mengarah pada hasrat tadi. Karena jika diharamkan, berdosalah seluruh orang Indonesia.

Inilah konteksnya sekarang, haram bisa menjadi mubah. Bersentuhan atau memandang wanita yang bukan muhrim adalah haram, kecuali tidak disertai dengan hasrat. Jadi, substansinya pada hasrat seks tadi. Karena walaupun ia wanita yang di bolehkan untuk disentuh, tapi kalau ia sudah meunculkan hasrat seks maka itu haram. Coba saja lihat sekarang ini, anak memperkosa ibunya, kakek memperkosa cucunya, cucu memperkosa neneknya, ayah memperkosa anaknya, kemenakan memperkosa bibinya, paman memperkosa kemanenakannya. Adapula, tetangga memperkosa nenek atau anak kecil dari tetangga. Semuanya bisa terjadi pada saat ini, pelanggaran hasrat seks inilah yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Mencegahnya ialah dengan tidak bersentuhan dengan wanita.

Tapi saya tidak mau mengambil kesimpulan dulu. Sebab teradapat perbedaan pendapat soal ini.

Banyak hadis yang mengharamkan untuk menyentuh tangan wanita. Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat yang mengharamkannya adalah sebagai berikut:

Pertama, beberapa riwayat dari ‘Aisyah r.a. yaitu:

Telah berkata ‘Aisyah: “Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Telah berkata ‘Aisyah: “Tidak! Demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah Saw menyentuh tangan wanita (asing), hanya ia ambil bai’at mereka dengan perkataan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Menurut para pengguna dalil ini, Hadits-hadits di atas dan serupa dengannya merupakan dalil yang nyata bahwa Rasulullah Saw tidak berjabat tangan dengan wanita bukan mahram (asing). Karena itu maka hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram adalah haram.

Kedua, hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:

Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-Thabrani].

Atau hadits yang berbunyi:

Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Ketiga, juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw yakni:

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i].

Tapi kembali lagi kepada yang mebolehkan. Dasarnya adalah riwayat yang menunjukkan bahwa tangan Rasulullah Saw bersentuhan (memegang) tangan wanita.

Pertama, diriwayatkan dari ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. yang berkata:

Kami telah membai’at Rasulullah Saw, lalu Beliau membacakan kepadaku ‘Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu’, dan melarang kami melakukan ‘nihayah’ (histeris menangis mayat), karena itulah seorang wanita dari kami menggenggam (melepaskan) tangannya (dari berjabat tangan) lalu wanita itu berkata: ‘Seseorang (perempuan) telah membuatku bahagia dan aku ingin (terlebih dahulu) membalas jasanya’ dan ternyata Rasulullah Saw tidak berkata apa-apa. Lalu wanita itu pergi kemudian kembali lagi.” [HR. Bukhari].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kaum wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan. Kata qa ba dha dalam hadits ini memiliki arti menggenggam/melepaskan tangan. Seperti disebutkan di dalam kamus yang berarti menggenggam sesuatu, atau melepaskan (tanganya dari memegang sesuatu) (A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir, hal. 1167). Hadits ini jelas-jelas secara manthuq (tersurat) artinya ‘menarik kembali tangannya’ menunjukkan bahwa para wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan, sebab tangan salah seorang wanita itu digenggamnya/dilepaskannya setelah ia mengulurkannya hendak berbai’at. Selain itu dari segi mafhum (tersirat) juga dipahami bahwa para wanita yang lain pada saat itu tidak menarik (menggenggam) tangannya, artinya tetap melakukan bai’at dengan tangan terhadap Rasulullah Saw. Jadi hadits ini menunjukkan secara jelas —baik dari segi manthuq (tersurat) maupun mafhum (tersirat)— bahwa Rasulullah Saw telah berjabat tangan dengan wanita pada saat bai’at (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzhâm Ijtima’i fi al-Islâm, hal. 57-58, 71-72). Penjelasan ini juga sekaligus membantah yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan genggaman tangan dalam hadits tersebut adalah ‘penerimaan yang terlambat’.” Seperti yang dikemukakan golongan yang mengharamkan jabat tangan (Muhammad Ismail, Berjabat Tangan Dengan Perempuan, hal. 34). Sebab kata ‘genggam tangan’ dalam hadits tersebut tidak memiliki arti selain ‘berjabat tangan’. Dan tidak bisa dipahami/diterima dari segi bahasa kalau diartikan ‘penerimaan yang terlambat’. Kata qa ba dha juga sering ditemukan dalam hadits-hadits lain yang artinya menggenggam dengan tangan, misalnya, diriwayatkan oleh Abu Bakar r.a. dari Ibnu Juraij yang menceritakan, Bahwa ‘Aisyah r.a. berkata, “Suatu ketika datanglah anak perempuan saudaraku seibu dari Ayah Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tapi tiba-tiba Rasulullah Saw masuk seraya membuang mukanya. Maka aku katakan kepada beliau ‘Wahai Rasul, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung’.” Beliau kemudian bersabda:

Apabila seorang wanita telah sampai usia baligh maka tidak boleh ia menampakkan anggota badanya kecuali wajahnya dan selain ini —digenggamnya pergelangan tangannya sendiri— dan dibiarkannya genggaman antara telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya.” [HR. ath-Thabari dari ‘Aisyah r.a.].

Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. ini yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Namun demikian kebolehan tersebut dengan syarat tidak disertai syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram.

Kedua, diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:

“Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab: ‘Ini tangan seorang wanita.’ Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan pacar)’.” [HR. Abu Dawud].

Ketiga, dalil lain yang membuktikan bahwa hukum mushafahah adalah mubah adalah dari firman Allah SWT:

…atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 43).

Ayat ini merupakan perintah bagi seorang laki-laki untuk mengambil air wudlu kembali jika ia menyentuh wanita. Wanita yang ditunjuk oleh ayat itu bersifat umum, mencakup seluruh wanita, baik mahram maupun bukan. Dengan kata lain, bersentuhan tangan dengan wanita bisa menyebabkan batalnya wudlu, namun bukan perbuatan yang diharamkan. Sebab, ayat tersebut sebatas menjelaskan batalnya wudlu karena menyentuh wanita, bukan pengharaman menyentuh wanita. Oleh karena itu, menyentuh tangan wanita —tanpa diiringi dengan syahwat— bukanlah sesuatu yang diharamkan, alias mubah.

Walhasil berdasarkan mafhum isyarah dalam ayat tersebut di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa hukum mushafahah adalah mubah.

Keempat, Adanya riwayat-riwayat lain yang membolehkan mushafahah adalah sebagai berikut.

Imam ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabîr, juz 8, hal. 137 menuturkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar ra telah berjabat tangan dengan para wanita dalam bai’at, sebagai pengganti dari Rasulullah Saw.

Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabarani bahwa Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan para wanita sebagai pengganti dari Rasulullah Saw.

Imam al-Qurthubi di dalam al-Jâmi’ al-Ahkâm al-Qurân, juz 18, hal. 71, juga mengetengahkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw mengambil bai’at dari kalangan wanita. Diantara tangan Rasulullah Saw dan tangan wanita-wanita itu ada sebuah kain. Kemudian Rasulullah Saw mengambil sumpah wanita-wanita tersebut. Dituturkan pula bahwa setelah Rasulullah Saw selesai membaiat kaum laki-laki Rasulullah Saw duduk di shofa bersama dengan Umar bin Khaththab yang tempatnya lebih rendah. Lalu, Rasulullah Saw membai’at para wanita itu dengan bertabirkan sebuah kain, sedangkan Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan wanita-wanita itu.

Riwayat-riwayat ini merupakan dalil kebolehan mushafahah. Sebab, ada taqrir dari Rasulullah Saw terhadap perbuatan Umar bin Khaththab.

Adapula Argumen yang lain tentang penghalalan menyentuh tangan wanita:

Kutipan dari Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw (Bandung: Karisma, 1993), hlm. 179-180:

Dalam kitab yang mensyarahkan hadis Bukhari ini, Al-Hafizh menulis: “Yang dimaksud dengan ‘menggandeng tangan beliau’ dalam hadis tersebut ialah apa yang menjadi kelaziman perbuatan seperti itu, yakni kelembutan dan kepatuhan. Hadis itu mencakup empat macam tawadhu’ yang luar biasa, yaitu karena menyebutkan pelakunya (yakni yang menggandeng tangan beliau) seorang perempuan, bukannya seorang laki-laki; bahkan seorang sahaya perempuan, bukannya seorang perempuan merdeka; juga menyebutnya sebagai ‘seorang sahaya perempuan’, sebarang sahaya; kemudian menyebutkan ‘ke mana saja dikehendaki oleh si sahaya’, yakni sebarang tempat di mana saja. Di samping itu, penggunaan ungkapan ‘menggandeng tangan’ itu sendiri menunjukkan betapa si sahaya bebas membawa beliau ke mana saja, sehingga seandainya keperluannya berada di luar batas kota Madinah sekalipun, lalu ia meminta bantuan beliau, niscaya beliau akan memenuhinya juga. Itu semua menunjukkan betapa besar tawadhu’ beliau serta betapa jauhnya beliau dari sikap sombong yang bagaimanapun juga.” (Fat-h Al-Bâri, juz 13)

Memang, apa yang disebutkan oleh Al-Hafizh (rahimahullah) pada umumnya dapat diterima. Namun, caranya mengalihkan arti ‘menggandeng tangan’ dari arti harfiahnya kepada arti kelazimannya, yakni kelembutan dan kepatuhan, rasa-rasanya kurang dapat diterima. Sebab, baik arti harfiahnya maupun kelazimannya, kedua-duanya memang tercakup dalam ungkapan tersebut. Sedangkan menurut asalnya, setiap ucapan haruslah dipahami sesuai dengan susunan lahiriahnya, kecuali apabila terdapat dalil atau petunjuk tertentu yang mengharuskan pengalihan artinya, dari apa yang tersurat kepada yang tersirat. Adapun dalam hal ini, tidak ada petunjuk yang mengharuskan pengalihan seperti itu. Bahkan menurut versi Imam Ahmad, susunan kalimatnya adalah “. . . maka beliau tidak akan melepaskan tangannya dari tangan si sahaya, sedemikian sehingga ia dapat membawa beliau pergi ke mana saja yang ia kehendaki . . .” Ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hal itu memang benar-benar terjadi sesuai dengan susunan harfiahnya. Maka mengalihkan artinya (sebagaimana dilakukan oleh Al-Hafizh) adalah – tak lain – tindakan yang mengada-ada.

Namun, menutup sama sekali pintu majâz dalam memahami hadis-hadis, dan berhenti pada artinya yang asli dan harfiah, pasti akan menghalangi banyak dari kalangan terpelajar di masa kini daripada memahami As-Sunnah, bahkan memahami Islam itu sendiri. Dan pada gilirannya, akan membuka pintu keraguan di hadapan mereka mengenai kebenarannya, akibat memahami setiap ucapan secara harfiah. Sementara jika mau menerima pemahaman secara majâz, rasa keingintahuan mereka akan dapat terpuasi dengan cara yang sejalan dengan tingkat pendidikan mereka, tanpa harus menyimpang dari logika bahasa ataupun kaidah-kaidah agama.

Kamis, 04 September 2008

Kamis, 24 Juli 2008

Selamat Datang Dua Puluh Tiga

Dua dasawarsa tambah 3 tahun..
Waktu yang cukup lama....
Namun ternyata hanya sekejap..
Sepertinya belum sempat kaki kecilku melangkah jauh..
Dihadapanku telah berdiri seekor singa yang bernama dosa..
Juga manusia bernama wanita..yang lebih baik berjalan dibelakang seekor harimau daripada dibelaknag mahluk satu ini..
Mengenal Islam lewat jenggot dan surban..
Menangis ditengah malam saat sayup..didalam mesjid kudengar sahabat terseduh..
kemudian belajar tentang memorian Al Banna..
Sampailah aku di jamaah
Yang kadang kubahagia yang kadang pula ku kecewa

Ultah..
entah siapa yang memulai..
Lilin dan kado hampir tak pernah kunikamati
Hanya kado setahun yang lalu dari seorang sahabat
Kaset tentang "cinta"..mungkin supaya saya taubat
Karena saya manusia yang paling jahat
Tapi..sungguh sayang, sungguh tak nikmat..
Kaset itu berada ditangan orang yang tak kukenal..
Sungguh sayang kaset itu belum sempat kudengar

Ini bukan puisi..
hanya ungkapan perasaan biasa
dipisah-pisah
tentang diriku yang semakin dewasa
diusia dua puluh tiga
besak hari jum'at...tepat tanggal dua puluh lima
hari ultah..

Ultah..
lucu juga kalau mengingat haru birunya
Kisah temanku har yang selalu mengundang semasa kecil untuk menyaksikan ia meniup lilin
atau saat mubarak temanku di Mivo dulu..

saya berikan kado ultah..sisir loreng, mainan mobil tank, "CD" bergambar Tom n Jery, CD berwarna loreng, dan 1 buah Foto 10 r didalam sebuah kanvas.

Minggu, 01 Juni 2008

Malu Aku Jadi Nurdiansyah

"Langit akhlak rubuh, di atas negeriku yang berserak serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di RoxasBoulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dan , Champs 'Elyees dan Mesopotamia
Dan di sela khlayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan mata topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia"
Itulah kata ayahanda kita
Taufik Ismail si raja sastra Indonesia
Coba pikir! Bagaimana kalau puisi ini kuganti saja
"Malu aku jadi orang Sulawesi Tengah"
Tapi jelas tak bisa
Kenapa?
Karena aku tak pernah keluar daerah, apalagi negara
Aku juga tak punya kacamata
Topi baret juga, jangankan itu, kofiah pun aku tak ada
Ah...
Aku malu jadi Nurdiansyah

Selasa, 08 April 2008

Galery N3G













Bersama Rizal, Ketua KAMMI Daerah dan Syahril, shohib sekampung.

















Bersama Mutarabiku.
















Koordinator Lapangan Lagi Orasi, ya.. ana dong :)
















Tanda tangan masyarakat Palu, menuntut Pemkot, PLN dan PLTU


















Evaluasi Aksi !!


















Ini Loh Saya. Sang Demonstran!















Namanya Galang, Ponakanku.

Senin, 31 Maret 2008

Berbagi Informasi

Hai saudaraku..
Bagi kamu yang tak bisa mengirim Komentar kamu, bisa kirim saja ke email saya di n3g_alwafie@yahoo.co.id atau nds.n3g@gmail.com!!!