Bagi keluargaku Shalat adalah aktifitas yang harus dilaksanakan pada tiap harinya. Tak boleh ketinggalan amalan ini, sekali ditinggalkan ancamannya adalah neraka. Ayahku memang lulusan mu'alimin pernah menjadi Ustad di Ternate., Ibuku hanya pengurus Rumah Tangga biasa namun kasih sayangnya kepada ayahku sangat besar sehingga apa yang diamalkan oleh ayahku ibukupun mengamalkannya, aku dan 5 orang saudaraku juga melaksanakan amlan ini.
Dari usia sekitar 6 Tahun aku sudah terbiasa dengan amalan ini namun sampai aku duduk di Sekolah Dasar tak pernah aku tahu apa yang akan dibaca dalam gerakan ini. Yang kuketahui hanya Al Fatihah stelah takbir kemudian membaca surat-surat pendek adapun bacaan yang lain aku sama sekali tak faseh mengucapkannya karena tidak hafal.
Ketika mengaji al qur'an aku termasuk anak yang bandel, sering bolos dan berbohong dengan orang tua. Dan akhirnya dengan ulahku ini aku ketahuan sudah hampir sebulan aku tak masuk. Ibuku marah besar dan memaksaku untuk mengaji lagi. Tidak berapa lama aku masuk aku membujuk orang tuaku agar aku lebih baik sekolah Sore Madrasah Ibtidayah saja. Keinginanku terpenuhi tapi di MI aku juga sering melakukan hal yang sama, namun aku tetap lulus karena kelas 3 aku mulai lebih aktif, bahkan menjadi ketua kelas saat itu.
Lulus SD aku memilih sekolah di Madrasah Tsanawiyah Di Kampungku. Walau tak begitu berprestasi aku masih tetap berada dalam peringkat 10 besar. Pelajaran yang paling aku sukai adalah Fikh, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Qur'an Hadits, Sejarah Ke Alkhairaatan. Sepertinya minat ingin mengetahui agama lebih besar ketibang belajar ilmu-ilmu yang lain.
Aku mulai belajar agama menghafal semua bacaan shalat-dan mereviu semua hafalanku. Amalan ibadaku bukan lagi tradisi tapi ada motivasi tersendiri.
DiMadrasah Tsanawiyah jugalah aku mulai mengenal gerakan islam. berawal dari simpatiku melihat salah satu gerakan yang datang didesaku untuk berdakwah. Jama'ah Tablig telah mengubah paradigmaku berpikir tentang hakikat diri. Iman tumbuh...saat pertama kali berada ditempat mereka. Entah? aku merasa tenang dihadapan mereka ukhwahnya sangat kuat sehingga telah mngikatku.
Selasa, 20 November 2007
Senin, 19 November 2007
AKU
Aku Dan Tuhanku
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Kecilku ayahku memperkenalkan aku dengan gerakan shalat. Berdiri, rukuk, sujud, dan berkomat kamit, itulah yang kukenal dengan gerakan ini. Entah apa orientasinya?. Aku hanya sekedar menjalani tradisi ini seperti apa yang telah dibiasakan oleh keluargaku. Lantunan ayat-ayat zhahir yang dibacakan ayahku terdengar di ruang pondok yang terbatas cahaya lampu minyak karena aku dan keluargaku tinggal dikawasan yang diapit oleh kebun kelapa dan sawah.
Ketika malam-malamku diserambi pondok aku diperkenalkan dengan cahaya-cahaya kecil yang berkedap kedip, ribuan kadang mereka berhamburan keluar dari ilalang, ah...alangkah indahnya kunang-kunang. Namun ada cahaya yang selalu membuat aku selalu bertanya dengan ayahku, karena cahaya itu selalu nampak dari kejauhan. Kadang cahaya itu terbang, berjalan, berlari dan naik keatas pondok disawah-sawah. Cahaya itu berbeda dengan cahaya kecil tadi, ia kadang nampak seperti sosok manusia, kedengarannya menyeramkan...tapi sebagai penghuni kesepian, kami merasa itu adalah kehidupan sosial kami mesti berteman dengan cahaya-cahaya aneh. Pertanyaanku terjawab oleh ayahku dengan kata; jin.
Kenapa ada kehidupan yang serba-serbi ini? Kepolosan kecilku memang tidak pernah serius dengan pertanyaan ini namun pada usia yang lebih berpikir aku menemukan satu kepercayaan yang bukan hanya sekedar tradisi. Aku menuntut diri pada satu kodratku yang mana aku percaya bahwa ada pencipta akan keanehan tadi...gerak shalat adalah kehendaknya kepadaku yang belajar akan hidup dan mengerti sesuatu yang disembah, kunang-kunang adalah ciptaan-Nya yang menjadi nikmat dimataku, jin adalah satu tanda ke ghaiban-Nya bahwa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan jasad yang tesembunyi, apalagi Dia.
Nominous, bahwa setiap manusia memiliki Tuhan. Pantas saja Bapak Para Nabi, Nabiullah Ibrahim Penasaran. Aristoteles, Tales, Socrates, dan para ahli filsafat lainnya meski berjibaku dengan logika namun tetap tertunduk lesuh ketika mendapat satu kebenaran yang Hakiki yaitu Tuhan, akal mereka sangat terbatas. Kini tak ada yang membantah itu termasuk Aku.
Allah, satu kalimat indah dalam bahasa arab tergabung dalam tiga huruf, masing-masing satu huruf Alif, dua huruf Lam dan satu huruf Ha'. Walau aku tak mengerti betul bahasa arab tapi dengan 3 Huruf itu hati dan fikiranku berkata bahwa ada yang khusus dengan kata itu, Ia kedengaran indah, radikal, padat, halus dan rasanya sangat-sangat begitu sempurna, tak seperti pada nama-nama yang kukenal selama ini. Tak ada satupun kata yang bisa mengalahkan Kalimat ini.
Langganan:
Komentar (Atom)