Tiba-tiba saja temanku menanyakan
"Betul nang, kamu kirimkan surat ke Ika (bukan nama sebenarnya)?," interogasinya.
"Ahh surat apa, betul itu bukan saya, itu bukan saya," elakku.
"Surat cinta untuk Ika, tapi seperti tulisanmu, saya yakin itu tulisanmu."
"Wallahi itu bukan saya," suaraku agak berat, wajahku sepertinya memerah, antara malu besar dan juga marah besar.
"Ih tulisanmu itu nang," katanya lagi. Senyum sinis.
"Wallahi itu bukan saya, Wallahi..," kataku lagi, mengharap dia bisa percaya kalau itu bukan saya.
Sahabatku menginterogasiku. Wajahnya ganas. Kata-katanya menusuk. Hatiku lebam. Walau sudah menyebut nama Allah, dia tetap masih meyakini kalau sayalah yang menuliskan surat itu. Surat yang katanya, hanya secarik saja. Untaian puisi memuja-muja seorang akhwat di KAMMI. Surat yang di dapatkannya di bawah meja Komputer, yang telah kumal, bekas genggaman kemarahan seorang wanita. Sayang surat itu, tak terbubuhkan nama penulis.
Ya Allah....inilah masalah yang terberat bagi saya, saat itu. Saya seakan dipojokkan dengan tulisan yang sangat mirip dengan tulisan tanganku ini. Sekali lagi, saya sangat malu, betul-betul sangat malu. Ingin rasanya kupukul saja sahabatku ini. Atau kubunuh saja dia..jangan dia sahabatku.
Kutaruh dimana wajahku. Surat tanpa nama itu, telah menuduhku, seakan dia telah membentangkan tulisan yang sangat besar di wajahku, "NANANG MENULISKAN SURAT UNTUK AKHWAT."
Padahal, belum lama itu, kami menghadapi masalah, seorang kader Ikhwan yang mengikuti DM 2 mengirimkan surat buat Akhwat. Kini masalah itu sekan berarah ke saya, dan saya telah divonis MUNAFIK!!!
Sedangkan akhwat itu, saya tidak tahu bagaimana perasaannya. Atau jangan-jangan dia akan menuduhku juga. Bahkan sudah dengan tegas akan membenciku seumur hidup. Menanyakannya juga saya malu. Saya akhirnya menyikapi serba salah, menghindar darinya takut dianggap tulisan itu bnear. Biasa saja, takut dianggap tak tahu malu. Mendekatpun, takut dikira sedang pendekatan. Biarlah nanti Allah saja yang membuktikan di akhirat nanti.
Olehnya, kepada siapapun kalian yang dikirimkan surat, yang tak bernama, buang saja surat itu!!! Itu namanya tidak jantan. Dan ikhwan itu terlalu HIPOKRIT. Bagi siapapun kalian yang mendapatkan surat yang tak bernama! Jangan langsung menuduh tolong tabbayun dulu! Apalagi bagi anak KAMMI.
Kepada temanku, Kita terkadang terlalu yakin dengan pengetahuan diri. Kita merasa tahu segalanya sehingga seolah-olah memiliki otoritas untuk membuat kesimpulan mengenai sesuatu hal. Atau kalau menyangkut kepribadian orang lain, kita sering merasa tidak perlu informasi lebih lanjut karena kita merasa cukup pengetahuan mengenai jati diri orang itu sebenarnya.
Kesalahan terbesar seseorang adalah ketika ia menganggap dirinya telah cukup pengetahuan sehingga ia tidak memiliki itikad sedikitpun untuk melakukan cek ricek, tabayyun, konfirmasi balik. Tentang suatu kejadian, ia langsung menyimpulkan ini itu. Tentang diri seseorang, ia langsung menyimpulkan ini itu, menilai begini itu. Dengan pengetahuan sedikitnya, ia merasa sudah banyak pengetahuan. Dengan interaksinya dengan orang lain yang sebentar, ia merasa sudah berhak membuat kesimpulan mengenai diri seseorang itu padahal boleh jadi apa yang disimpulkannya itu hanya akan membuahkan fitnah dan kebohongan, jauh dari fakta sebenarnya. Keterbatasan yang dimilikinya tiada pernah disadari. Ia terjebak dalam ujub diri, merasa punya kemampuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal atau orang lain tanpa diiringi dengan sikap kehati-hatian. Maka ia pun mudah berkomentar tanpa dipikir lebih dalam lagi. Ia mudah menilai sesuatu tanpa mencari dulu fakta yang benar.
Yang lebih fatal lagi adalah ketika kecerobohan sikap ini disebarkan ke orang lain. Kalau menyangkut diri seseorang, maka betapa ia akan menumbuhkan sikap kebencian dari orang yang dirugikannya atas pemberitaan yang tidak benar. Prasangka dikira kebenaran. Prasangka melahirkan kebohongan. Prasangka yang tidak disertai tabayun akan melahirkan kerenggangan hubungan sesama.
Kita berlindung dari Allah dari sifat sombong, ujub diri, dengki, dan fitnah. Kita ini makhluk yang sangat terbatas. Terbatas ilmunya. Terbatas pengetahuannya. Bila kita sadar bahwa kita terbatas, maka kita akan menjadi manusia yang sangat hati-hati. Hati-hati dalam menyikapi sesauti. Hati-hati dalam menilai sesuatu. Hati-hati dalam membuat kesimpulan terhadap suatu kejadian. Hati-hati meski sekedar dalam hati.
Selasa, 25 November 2008
Senin, 24 November 2008
KAMMI Kritis Adalah Harapanku
oTanggal 21 Desember nanti, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah akan melaksanakna Musyawarah Daerah (MUSDA). Di tengah-tengah rencana itu, KAMMI Sulteng mengalami krisis kader dan krisis pemimipin tentunya. KAMMI Sulteng selam setahun ini mengalami kondisi yang mengenaskan. dimana KAMMI sama sekali tak lagi diperhitungkan di Sulteng.
Wajar KAMMI tak diperhitungkan. Dalam rana politik KAMMI tidak bisa bersuara secara tegas. Banyak isu-isu terlewatkan, misalnya, Isu Pembangunan MAAL Tatura yang berdekatan dengan Pasar Tradisional, Isu Maal Tatura yang berhutang diambil alih Pemkot, Isu Pemadam Listrik yang berkepanjangan, Isu Perda Zakat, semuanya tak diakomodir untuk kemudian dieksekusi sebagai penghujam kezaliman pemerintah. Kemandulan ini sangat disayangkan.
Dahulu, ketika saya memulai diskusi tentang masalah kedaerahan, betapa saya bangga kepada teman-teman yang antusias mengikuti kegiatan, yang saya namakan Bicara Studi Kasus Politik (BISIK) ini. Pembahasan awal cukup mengembirakan bagi saya, karena teman-teman begitu kritis mengungkapkan argumennya. Namun ternyata saya sadar pada saat itu KAMMI hanya berbicara soal Kampus. Wah, basi!! Karena bila dipikir-pikir masalah tentang kampus adalah hal yang wajar diketahui oleh kader. Saya semakin sadar kalau ternayata secar tehnis KAMMI Daerah tak layak membicarakan urusan kampus, itu urusan KAMMI Komisariat.
Lama kelamaan kondisi BISIK semakin mengambang, pertemuan ketiga dan keempat teman-teman sudah muali jumud. Saya marah-marah dengan ini. Melihat sikapku, merekapun kembali meramaikan BISIK, namun bukan niat diskusi akan tetapi sekedar mengahragai. Sungguh mereka tak sadar, niatan kasian kepada saya, namun ternyata menjadikan KAMMI kasian di mata Mahasiswa.
Sayapun merubah format BISIK dengan membicarakan soal Idealisme-idealisme berkembang. Ah, dalam hati saya berteriak, mengapa KAMMI Daerah kembali pada pembahasan yang sangat basic. Terlalu terlenakah KAMMI dengan dakwah Kampus? sehingga melupakan track-nya sebagai da'i yang ada di daerah? Sungguh terlalu.
Kalau begini KAMMI jadi apa? Mungkin beginilah KAMMI, lebih suka membahas masalah kampus, atau mahasiswa saja. Coba lihat? KAMMI itu hanya konsolidasi melulu, alasannya memulihkan KAMMI. Akhirnya BISIK yang terakhir yang kulaksanakan tamat dengan pembahasan soal Mahasiswa lagi, itupun di taman kota, ditemani bunga-bunga, kicauan burung dan tarian kupu-kupu.. sungguh indah kenangan terakhir itu.
Saat saya mengusulkan untuk demo PLN, teman-teman semua kelihatan kurang merespon. pertanyaan yang paling menyakitkan bagi saya saat itu; "Eh tetap jadi tidak aksi kita? Kayaknya listrik sudah menyala ini. Dan kata Ali Lamu (Anggota DPRD) , hari senin ada hearing. jadi kayaknya sudah selesai masalahnya," ada juga yang mengatakan,"Sudah basi membahas PLN." saya tidak terima akan hal ini, kader KAMMI tidak menganalisa masalah ini secar jelas. Mana mungkin ada hearing kalau tidak ada masalah, tidak ada yang basi dengan ini, sebab jika manajemen PLTU sebagai pemasok listrik tidak becus, maka kita maslah ini akan terus berkelanjutan. Terbukti, sampai saat ini, masalah listrik di kota Palu tidak pernah selesai.
Masih ingat pula saya dengan kata-kata teman-teman luar daerah saat saya mengikuti Daurah Marhalah dua, di Kendari. Mereka mengatakan, KAMMI Sulteng terlalu "Melankolis," betapa malunya saya. Rasanya saya ingin bergentayang saja diantara Kendari dan Palu, malu saya ada di Kendari, dan lebih malu bercampur gengsi jika ada di Palu.
Olehnya, saya berharap KAMMI kedepan akan memulai dirinya menjadi Mahasiswa yang betul-betul kritis dan idealis. Tak bernikmat-nikmat dengan "onani" membicarakan soal mahasiswa yang akhirnya merugikan KAMMI dan tentunya dirindukan perannya oleh masyarakat.
Akhi....sudah saatnya KAMMI berubah.
Karena, mahasiswa sebagai sosok intelektual yang memiliki mobilitas tinggi merupakan aset besar yang dimiliki oleh daerah ini , dimana peradaban lokal ditentukan oleh mereka, baik kah atau buruk. Masa muda adalah fase yang produktif dalam bergerak dan berkonstribusi.
Harapan saya, ketika terbentuknya pengurus KAMMI Sulteng, periode 2009-2011, KAMMI akan diperhitungkan oleh rakyat, ataupun pemerintah. Sehingga KAMMI-lah stackholder yang diakui suaranya, sebagai suara yang murni aspirasi rakyat.
Pemimpin nantinya
Harapan saya tentang akan kembalinya KAMMI menjadi mesin pencetak kader baik secar kualitas dan kualitas, maka haris dibutuhkan kepemimpinan yang baik. Belajar dari kesalahn masalalu, say pikir KAMMI saatnya berubah, jangan sampai semua Departemen yang bekerja pada lingkup ekstra kampus dipandang sebelah mata. Misalnya, Departemen Kebijakan Publik yang diamanahi kepada kader yang tidak Alim, "Kasar", bahkan akhirnya bukan kader kammi secara akreditas.
Saya tak mau menjadi pemimpin KAMMI Sulteng, Insya Allah tak ada yang mencalonkan saya. Saya akan merekomnedasikan dua nama yang akan naik kepentas perhelatan akbar KAMMI Sulteng ini, yaitu Ivan dan Ikbal.
Mungkin jika merunut pada keluhanku, saya lebih memilih Ikbal untuk menjadi Ketua KAMMI sebab, saya meilhat padanya ada ketegasan. Ia juga sanagt kritis dibanding teman-temanlainnya. Pemikirannya analitik. Pad saat orasi, suanya lebih lantang terdengar darpiada Ivan, selain itu kata-katanya tertata saat berbicara atau sedang berorasi. Namun, kehadirannya di KAMMI belum hitungan tahun, temtunya menjadi penghambat. Dia dianggap tak berpengalaman dan masih belajar berdiri untuk memimpin KAMMI.
Lain lagi Ivan, pengalamannya di KAMMI sudah hitungan lebih dari 3 tahun. Masalah KAMMI tentunya sudah menjadi salah satu dari bagian hidupnya. Kerja-kerja di KAMMI juga tak lain adalah perannya. Ia juga mempunyai wawasan politik. Hanya saja, wawasanPolitik ini sangat pasif, ilmunya tak disalurkan. Antusiasme untuk berpolitik secara kedaerahan masih sedikit, mungkin karena ia terbiasa mengurusi komisariat dan kaderisasi.
Tapi terlepas dari kelemahan mereka, satu dari mereka berdua terpaksa dijadikan pemimpin KAMMI kedepan. Dan membantu mereka adalah kewajiban kita, selama mereka belum keluar dari koridor yang telah diatur oleh KAMMI. Mudah-mudahan KAMMI akan Sukses!!!!
Wajar KAMMI tak diperhitungkan. Dalam rana politik KAMMI tidak bisa bersuara secara tegas. Banyak isu-isu terlewatkan, misalnya, Isu Pembangunan MAAL Tatura yang berdekatan dengan Pasar Tradisional, Isu Maal Tatura yang berhutang diambil alih Pemkot, Isu Pemadam Listrik yang berkepanjangan, Isu Perda Zakat, semuanya tak diakomodir untuk kemudian dieksekusi sebagai penghujam kezaliman pemerintah. Kemandulan ini sangat disayangkan.
Dahulu, ketika saya memulai diskusi tentang masalah kedaerahan, betapa saya bangga kepada teman-teman yang antusias mengikuti kegiatan, yang saya namakan Bicara Studi Kasus Politik (BISIK) ini. Pembahasan awal cukup mengembirakan bagi saya, karena teman-teman begitu kritis mengungkapkan argumennya. Namun ternyata saya sadar pada saat itu KAMMI hanya berbicara soal Kampus. Wah, basi!! Karena bila dipikir-pikir masalah tentang kampus adalah hal yang wajar diketahui oleh kader. Saya semakin sadar kalau ternayata secar tehnis KAMMI Daerah tak layak membicarakan urusan kampus, itu urusan KAMMI Komisariat.
Lama kelamaan kondisi BISIK semakin mengambang, pertemuan ketiga dan keempat teman-teman sudah muali jumud. Saya marah-marah dengan ini. Melihat sikapku, merekapun kembali meramaikan BISIK, namun bukan niat diskusi akan tetapi sekedar mengahragai. Sungguh mereka tak sadar, niatan kasian kepada saya, namun ternyata menjadikan KAMMI kasian di mata Mahasiswa.
Sayapun merubah format BISIK dengan membicarakan soal Idealisme-idealisme berkembang. Ah, dalam hati saya berteriak, mengapa KAMMI Daerah kembali pada pembahasan yang sangat basic. Terlalu terlenakah KAMMI dengan dakwah Kampus? sehingga melupakan track-nya sebagai da'i yang ada di daerah? Sungguh terlalu.
Kalau begini KAMMI jadi apa? Mungkin beginilah KAMMI, lebih suka membahas masalah kampus, atau mahasiswa saja. Coba lihat? KAMMI itu hanya konsolidasi melulu, alasannya memulihkan KAMMI. Akhirnya BISIK yang terakhir yang kulaksanakan tamat dengan pembahasan soal Mahasiswa lagi, itupun di taman kota, ditemani bunga-bunga, kicauan burung dan tarian kupu-kupu.. sungguh indah kenangan terakhir itu.
Saat saya mengusulkan untuk demo PLN, teman-teman semua kelihatan kurang merespon. pertanyaan yang paling menyakitkan bagi saya saat itu; "Eh tetap jadi tidak aksi kita? Kayaknya listrik sudah menyala ini. Dan kata Ali Lamu (Anggota DPRD) , hari senin ada hearing. jadi kayaknya sudah selesai masalahnya," ada juga yang mengatakan,"Sudah basi membahas PLN." saya tidak terima akan hal ini, kader KAMMI tidak menganalisa masalah ini secar jelas. Mana mungkin ada hearing kalau tidak ada masalah, tidak ada yang basi dengan ini, sebab jika manajemen PLTU sebagai pemasok listrik tidak becus, maka kita maslah ini akan terus berkelanjutan. Terbukti, sampai saat ini, masalah listrik di kota Palu tidak pernah selesai.
Masih ingat pula saya dengan kata-kata teman-teman luar daerah saat saya mengikuti Daurah Marhalah dua, di Kendari. Mereka mengatakan, KAMMI Sulteng terlalu "Melankolis," betapa malunya saya. Rasanya saya ingin bergentayang saja diantara Kendari dan Palu, malu saya ada di Kendari, dan lebih malu bercampur gengsi jika ada di Palu.
Olehnya, saya berharap KAMMI kedepan akan memulai dirinya menjadi Mahasiswa yang betul-betul kritis dan idealis. Tak bernikmat-nikmat dengan "onani" membicarakan soal mahasiswa yang akhirnya merugikan KAMMI dan tentunya dirindukan perannya oleh masyarakat.
Akhi....sudah saatnya KAMMI berubah.
Karena, mahasiswa sebagai sosok intelektual yang memiliki mobilitas tinggi merupakan aset besar yang dimiliki oleh daerah ini , dimana peradaban lokal ditentukan oleh mereka, baik kah atau buruk. Masa muda adalah fase yang produktif dalam bergerak dan berkonstribusi.
Harapan saya, ketika terbentuknya pengurus KAMMI Sulteng, periode 2009-2011, KAMMI akan diperhitungkan oleh rakyat, ataupun pemerintah. Sehingga KAMMI-lah stackholder yang diakui suaranya, sebagai suara yang murni aspirasi rakyat.
Pemimpin nantinya
Harapan saya tentang akan kembalinya KAMMI menjadi mesin pencetak kader baik secar kualitas dan kualitas, maka haris dibutuhkan kepemimpinan yang baik. Belajar dari kesalahn masalalu, say pikir KAMMI saatnya berubah, jangan sampai semua Departemen yang bekerja pada lingkup ekstra kampus dipandang sebelah mata. Misalnya, Departemen Kebijakan Publik yang diamanahi kepada kader yang tidak Alim, "Kasar", bahkan akhirnya bukan kader kammi secara akreditas.
Saya tak mau menjadi pemimpin KAMMI Sulteng, Insya Allah tak ada yang mencalonkan saya. Saya akan merekomnedasikan dua nama yang akan naik kepentas perhelatan akbar KAMMI Sulteng ini, yaitu Ivan dan Ikbal.
Mungkin jika merunut pada keluhanku, saya lebih memilih Ikbal untuk menjadi Ketua KAMMI sebab, saya meilhat padanya ada ketegasan. Ia juga sanagt kritis dibanding teman-temanlainnya. Pemikirannya analitik. Pad saat orasi, suanya lebih lantang terdengar darpiada Ivan, selain itu kata-katanya tertata saat berbicara atau sedang berorasi. Namun, kehadirannya di KAMMI belum hitungan tahun, temtunya menjadi penghambat. Dia dianggap tak berpengalaman dan masih belajar berdiri untuk memimpin KAMMI.
Lain lagi Ivan, pengalamannya di KAMMI sudah hitungan lebih dari 3 tahun. Masalah KAMMI tentunya sudah menjadi salah satu dari bagian hidupnya. Kerja-kerja di KAMMI juga tak lain adalah perannya. Ia juga mempunyai wawasan politik. Hanya saja, wawasanPolitik ini sangat pasif, ilmunya tak disalurkan. Antusiasme untuk berpolitik secara kedaerahan masih sedikit, mungkin karena ia terbiasa mengurusi komisariat dan kaderisasi.
Tapi terlepas dari kelemahan mereka, satu dari mereka berdua terpaksa dijadikan pemimpin KAMMI kedepan. Dan membantu mereka adalah kewajiban kita, selama mereka belum keluar dari koridor yang telah diatur oleh KAMMI. Mudah-mudahan KAMMI akan Sukses!!!!
Senin, 10 November 2008
Untuk Mujahid Kita

Peristiwa Gaib Saat Pemakaman Amrozi Cs
Senin, 10 November 2008 05:00
Iring-iringan Jenazah
- Suasana menjelang pemakaman Amrozi Cs menyiratkan sejumlah hal gaib. Jenazah Imam Samudra mengeluarkan bau wangi semerbak saat ingin dikeluarkan dari peti mati di Polda Banten.
Lulu Jamaluddin di rumah duka, Lopang Gede, Serang, Minggu (09/11), mengatakan, "Ya Allah, jenazah kakak wangi sekali waktu dikeluarkan dari peti. Seperti minyak wangi yang sering dipakainya,".
Peristiwa bau wangi tersebut juga terjadi pada jenazah Al Ghozi, tersangka dengan tuduhan sebagai teroris yang meninggal dunia ditembak polisi Filipina, demikian kesaksian dari seorang kerabatnya tidak diketahui namanya itu. "Jenazah Al Ghozi begitu wangi, ini menunjukkan almarhum mati syahid," katanya.
Keyakinan yang sama juga datang dari Lulu, adik kandung Imam Samudra. Dia mengatakan, "Kakak saya ya pasti mendapatkan tempat yang layak di surga seperti yang dicita-citakannya.".
Wangi yang timbul dari jenazah Imam Samudra ini adalah wangi parfum yang biasa digunakan almarhum semasa hidup, bukan wangi kapur barus yang biasa digunakan bersama kain kafan.
Kejadian aneh juga terjadi di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, Minggu (09/11) yaitu sekitar satu jam sebelum kedatangan jenazah, muncul tiga burung belibis hitam mengitari rumah Amrozi. Kontan hal ini membuat warga yang memadati area sekitar rumah Hj.Tariyem takjub. H.Ahmad mengungkapkan, "Ini tanda jenazah mereka langsung bertemu dengan Allah. Burung itu bidadari yang menjemput,".
Kehadiran tiga burung tersebut membuat massa kafilah Syuhada serentak mengucapkan kalimat takbir berkali-kali. Mereka yakin ketiga jenazah akan masuk surga.
Sesuai permintaan, eksekusi Amrozi Cs berlangsung tanpa penutup wajah. Tak ada rasa takut yang hinggap di diri mereka. Hal ini terlihat pada wajah Imam Samudra yang tersenyum dalam damai seperti sedang tidur saja. Lulu pun mengatakan, "Wajah kakak ganteng banget, senyum, bersih, gemuk. Subhanallah. Saya senang melihat ini dan tidak percaya. Kalau dulu saya sering nonton ini di TV tapi sekarang ini saya alami sendiri,".
(dari berbagai sumber)
Klik di sini untuk berita mujahid kita : www.syukran.wordpress.com
Jumat, 07 November 2008
Sahabat Sehati
eeemmm....mo nulis apa ee?
emmmmm....mmmm...emmm..
oh ini jo, tentang sahabat sehati.
Jadi, ternyata dunia tercipta manusia yang mempunyai minat dan rasa yang sama. yaa...walau tidak semua minat dan rasa yang sama, tapi paling tidak, minat dan rasa yang sedikit sama itu menjadi bukti peresahabatanku.
ada beberapa sahabat sehatiku...bagiku itu betul-betul sehati.
Untuk Posting kali ini untuk Zaenal
Zaenal, ia sering disapa zen(aauwww, nemo me sapa!!). Ada banyak sebenaranya indikasi kami bisa disebut sehati. Yang paling menonjol adalah saat memilih wanita, bagaiamana kriterianya, begitupun kriteriaku. entah, itu kenapa bisa sama.
Kisah unikku,terkait dengannya.
dulu, ia pernah bercerita kalau ia sudah menghitbah akhwat eh salah, masturah sebut kami saat itu. saat itu umurnya masih sekitar 17 atau 18, masih sma kelas 3. Nekat kan? Dengan kecerdasannya, Ia beri logika cinta butanya ke ortu si maturah, apolojinya kalau ia menikahinya setelah kuliyah atau tamat kuliyah. gila!!.
saat berecerita, dari romannya, ia sangat bahagia bukan kepalang. ia menyebutkan semua kriteria masturah pilihananya ini ke saya. katanya, si wanita pilihannya ini tidak terlalu cantik, biasa saja, tapi menarik. tak lupa ia juga menyebut alamat anak itu.
akhirnya, saya penasaran juga, yang mana sih orangnya? untuk menjawab rasa penasaranku, saya di ajaknya ke rumah si masturah ini. Pasar Inpres, agak lewat bundaran, perempatan, masuk lorong sebelah kana dari timur, jalaann terus, ada banyak polisi bobo, nah rumahnya paling ujung sebelah kiri. Yesss..ketemu juga rumahnya. Namun, aaahhh gagal...ternyata si makhluk Tuhan yang paling tertutup itu tak ada di rumah. kurang ngajar. maka penasaranku makin besaaaar. yaa..sabar-sabar-sabar, ana harus menunggu akhwat ini menikah dengan adindaku 5 tahun lagi.
2 Tahun berlalu..
Zen telah di tinggal mati bapaknya. tak mau menjadi beban keluarga. dan juga berniat membanggakan keluarga, ia nyantri selama beberapa tahun di Ponpes Nurul Khaeraat kanuna. ponpes yang sangat skolaktis, jauh dari kehidupan kota. kami hanya bisa bertemu dalam waktu yang sangat singkat, hanya hitungan jam saja, saat dia pulang, itupun kalau sempat bertatap muka denganku.
Kalau bertemu, kami tidak lagi membicarakan akhwat...bukan topik utama kami. mungkin karena sudah di atas 20 tahun. jadi sudah hampir 3 tahun kami melupakan wanita-wanita di hati kami.
Suatu saat..
Di Kampusku, saat saya menjadi senior di MPM. Saya diundang mahasiswa baru ikut buka puasa bersama di rumah salah satu dari mereka. di sana, sekaligus membicarakan planning MPM. Kami duduk leter O layaknya Musywarah. saat sedikit kulirik di depanku, sedikit gadhul bashar, ada seorang wanita, akhwat berjilbab lebar. dibilang cantik tidak, tapi menarik ya sangat menarik (eeeiiit ini bukan jatuh cinta). melihatnya, ada semacam insting. kayaknya wajahnya tak asing? Kayaknya saya pernah bertemu dengannya? Tapi saya yakin tidak.
saya terus penasaran, kenapa akhwat ini? sepertinya tak asing bagiku? Mimpi, atau ketemu pun saya yakin tidak pernah. mmm...siapakah akhwat misterius ini? saya cari kabar siapa wanita ini. jawab teman-teman, dia anak HT. Loh anak HT? Akhwat Tarbiyah aja jarang ana kenal, apalagi HT?
Siapakah dia? kucari tahu lagi di mana alamatnya, kata teman-teman lagi, BIromaru. whattttt Biromaru? semakin misterius. ????????
Sudahlah otak pencarianku sudah lelah...
Begini kutebak saja.
Suatu waktu...
saat kami bercakap-cakap di serambi mushalah. wanita ini ingin mengenalku, karena katanya wajahku tak asing baginya. hhmmm...semakin penasaran. Tapi, dengan sangkaanku ini, pasti benar.
dia tanya ke saya. "Kakak tamatan mana?"
"Tamatan Aliyah ALkhairaat," jawabku.layaknya orang yang berekanalan, kepalanya mengangguk.
lanjutku "Saya di Aliyah Alkhairaat, kakak kelasnya Zaenal, Zaenal sering dipanggil dengan nama Zen, Mantan Ketua OSIS-ku dulu."
Saya tersenyum lebar. Alisnya mengerut, seakan bertemu. Wajahnya memerah. WAAAWWWW TEPAAATTTT. Ternyata tebakanku benar... Ialah wanita itu. (maaf yang membaca tulisan ini, diharap jangan suuzhan!!!! lebih berdosa daripada mengeksekusi mujahid, he he he fatwa apa ini)
Walau ragaku bukan ragamu
Walau cintaku bukan cintamu
Walau tangisku bukan tangismu
Namun di hatiku ada se titik tinta rasamu
Sahabtku. (Untukmu Zen)
Bersambung ke Kisahku dengan Ivan....
emmmmm....mmmm...emmm..
oh ini jo, tentang sahabat sehati.
Jadi, ternyata dunia tercipta manusia yang mempunyai minat dan rasa yang sama. yaa...walau tidak semua minat dan rasa yang sama, tapi paling tidak, minat dan rasa yang sedikit sama itu menjadi bukti peresahabatanku.
ada beberapa sahabat sehatiku...bagiku itu betul-betul sehati.
Untuk Posting kali ini untuk Zaenal
Zaenal, ia sering disapa zen(aauwww, nemo me sapa!!). Ada banyak sebenaranya indikasi kami bisa disebut sehati. Yang paling menonjol adalah saat memilih wanita, bagaiamana kriterianya, begitupun kriteriaku. entah, itu kenapa bisa sama.
Kisah unikku,terkait dengannya.
dulu, ia pernah bercerita kalau ia sudah menghitbah akhwat eh salah, masturah sebut kami saat itu. saat itu umurnya masih sekitar 17 atau 18, masih sma kelas 3. Nekat kan? Dengan kecerdasannya, Ia beri logika cinta butanya ke ortu si maturah, apolojinya kalau ia menikahinya setelah kuliyah atau tamat kuliyah. gila!!.
saat berecerita, dari romannya, ia sangat bahagia bukan kepalang. ia menyebutkan semua kriteria masturah pilihananya ini ke saya. katanya, si wanita pilihannya ini tidak terlalu cantik, biasa saja, tapi menarik. tak lupa ia juga menyebut alamat anak itu.
akhirnya, saya penasaran juga, yang mana sih orangnya? untuk menjawab rasa penasaranku, saya di ajaknya ke rumah si masturah ini. Pasar Inpres, agak lewat bundaran, perempatan, masuk lorong sebelah kana dari timur, jalaann terus, ada banyak polisi bobo, nah rumahnya paling ujung sebelah kiri. Yesss..ketemu juga rumahnya. Namun, aaahhh gagal...ternyata si makhluk Tuhan yang paling tertutup itu tak ada di rumah. kurang ngajar. maka penasaranku makin besaaaar. yaa..sabar-sabar-sabar, ana harus menunggu akhwat ini menikah dengan adindaku 5 tahun lagi.
2 Tahun berlalu..
Zen telah di tinggal mati bapaknya. tak mau menjadi beban keluarga. dan juga berniat membanggakan keluarga, ia nyantri selama beberapa tahun di Ponpes Nurul Khaeraat kanuna. ponpes yang sangat skolaktis, jauh dari kehidupan kota. kami hanya bisa bertemu dalam waktu yang sangat singkat, hanya hitungan jam saja, saat dia pulang, itupun kalau sempat bertatap muka denganku.
Kalau bertemu, kami tidak lagi membicarakan akhwat...bukan topik utama kami. mungkin karena sudah di atas 20 tahun. jadi sudah hampir 3 tahun kami melupakan wanita-wanita di hati kami.
Suatu saat..
Di Kampusku, saat saya menjadi senior di MPM. Saya diundang mahasiswa baru ikut buka puasa bersama di rumah salah satu dari mereka. di sana, sekaligus membicarakan planning MPM. Kami duduk leter O layaknya Musywarah. saat sedikit kulirik di depanku, sedikit gadhul bashar, ada seorang wanita, akhwat berjilbab lebar. dibilang cantik tidak, tapi menarik ya sangat menarik (eeeiiit ini bukan jatuh cinta). melihatnya, ada semacam insting. kayaknya wajahnya tak asing? Kayaknya saya pernah bertemu dengannya? Tapi saya yakin tidak.
saya terus penasaran, kenapa akhwat ini? sepertinya tak asing bagiku? Mimpi, atau ketemu pun saya yakin tidak pernah. mmm...siapakah akhwat misterius ini? saya cari kabar siapa wanita ini. jawab teman-teman, dia anak HT. Loh anak HT? Akhwat Tarbiyah aja jarang ana kenal, apalagi HT?
Siapakah dia? kucari tahu lagi di mana alamatnya, kata teman-teman lagi, BIromaru. whattttt Biromaru? semakin misterius. ????????
Sudahlah otak pencarianku sudah lelah...
Begini kutebak saja.
Suatu waktu...
saat kami bercakap-cakap di serambi mushalah. wanita ini ingin mengenalku, karena katanya wajahku tak asing baginya. hhmmm...semakin penasaran. Tapi, dengan sangkaanku ini, pasti benar.
dia tanya ke saya. "Kakak tamatan mana?"
"Tamatan Aliyah ALkhairaat," jawabku.layaknya orang yang berekanalan, kepalanya mengangguk.
lanjutku "Saya di Aliyah Alkhairaat, kakak kelasnya Zaenal, Zaenal sering dipanggil dengan nama Zen, Mantan Ketua OSIS-ku dulu."
Saya tersenyum lebar. Alisnya mengerut, seakan bertemu. Wajahnya memerah. WAAAWWWW TEPAAATTTT. Ternyata tebakanku benar... Ialah wanita itu. (maaf yang membaca tulisan ini, diharap jangan suuzhan!!!! lebih berdosa daripada mengeksekusi mujahid, he he he fatwa apa ini)
Walau ragaku bukan ragamu
Walau cintaku bukan cintamu
Walau tangisku bukan tangismu
Namun di hatiku ada se titik tinta rasamu
Sahabtku. (Untukmu Zen)
Bersambung ke Kisahku dengan Ivan....
Langganan:
Komentar (Atom)