
Sahabat Kecil
Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali
Sahabat kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau mendungkan
Segala cita dan tujuan mulia
Tak ada suatu masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya..
Tiada...Tiada lagi tawamu
yang slalu menemani segala
sedihku...
Tiada...Tiada lagi candamu
yang selalu menghibur disaat
ku gurauan
Bila malam tiba
Ku slalu mohonkan doa
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi
Syair di atas nerupakan lirik lagu dari Gita Gutawa, mungkin sudah ada yang pernah mendengarkan lagu tersebut? Bagaimana rasanya? Ah...hiksss... mendengarnya, kan dibelai kenangan masalalu. Teman kecil pun melambai memanggil dimemori. Suara tawa yang tenor terngiang dan terus berdengung di telinga. Ah betul-betul hanyut...kita hanyut terbawa arus sungai madu sembari mendengar gaduh cekikikan bocah-bocah kecil.
Tersusunlah puzzle, bergambar wajah anak-anak kecil itu. Huruf demi huruf telah menyambung, namaku Nanang, Rohzikin, Wadud, Budi, Rahman, Pandi dan banyak lagi, semua tersusun indah. Puzzle memori mengingatkan aku pada masa kecil. Anak-anak yang riang bermain, di sawah, berperang lumpur, bermain tanah liat, membuat baling-baling dan terompet dari janur, hingga berenang di sungai Palu.
Belum lagi, lantaran kasih yang terpatri kita saling bermusuhan karena diantara kita acuh. Cemburu membara tak mampu dibendung, 'jangan kau ambil temanku kawanku! jangan lagi kau jadikan aku sahabatmu kawanku! Karena aku memilih temanku menjadi kawanku,' begitulah kata hati kita di kala kita meboikot diri untuk seuntai kata saja. Wah sungguh tidak indah permusuhan...
Sehari, tak mampu otak ini mengingat dan mengelilingi canda riang, suka duka, dan ego kekanak kanakan kita. Semuanya itu hanya selintas membelai memori, memaksa kita tersenyum di kesunyian ataupun menangis menatap bintang yang ditatap oleh semua manusia di bentang alam ini, atau memandang tanah yang diinjak oleh kawan di kejauhan.
Kembali pada masalalu adalah mustahil, menghadapi masadepan adalah kepastian. Namun mampukah kita kembali ke masalalu walau hanya lewat kenangan? Akankah kita meyatu dalam pertemuan, walau sejenak? Paling tidak saling mengumbar tawa bariton ini, seakan ia pun tenor dengan cerita kecil kita. Mungkinkah kita berjumpa lagi dalam masa itu?

Untukmu Teman
Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya
(Lirik lagu: Brother)
(ha ha ha ha ha ha ha...............melo juga ana ini???)

(Naskah: Nanang, Lirik: Gita Gutawa dan Brother, Foto: www.epochtimes.co.id, nanang (anak sawah serta canda galang dan arman) dan just-yasin.blogspot.com.